Baru Rampung Dikerjakan, Proyek Rabat Beton di Sidrap Sudah Retak

  • Bagikan
Silakan Bagikan:

Sidrap, fakta1.com โ€” Proyek rabat beton jalan tembus di Kelurahan Majeling, Kecamatan Maritengae, Kabupaten Sidrap, kini menjadi sorotan.

Proyek bernilai Rp 268 juta yang ditargetkan rampung pada 31 Desember 2025 itu terpantau mengalami retakan di sejumlah titik, meski baru saja selesai dikerjakan.

Pekerjaan fisik tersebut dilaksanakan oleh CV Akbar dengan Konsultan Pengawas CV Polygraf, di bawah pengelolaan Dinas Bina Marga, Cipta Karya, Tata Ruang, Pertanaman dan Perumahan Rakyat (Dinas PUPR) Pemkab Sidrap.

Retakan yang mulai terlihat sejak awal Januari 2026 memunculkan kekhawatiran warga sekaligus pertanyaan publik mengenai kualitas pelaksanaan, metode kerja, serta aspek teknis konstruksi yang diterapkan dalam proyek tersebut.

Secara teknis, retak pada rabat beton tidak selalu berdiri pada satu penyebab tunggal. Sejumlah faktor dapat berkontribusi, tergantung pada kondisi lapangan dan pelaksanaan pekerjaan.

Salah satu faktor yang kerap menjadi perhatian adalah proses curing atau perawatan beton pasca pengecoran. Beton membutuhkan kelembapan yang cukup dalam periode awal pengerasan untuk mencapai kekuatan rencana. Curing yang tidak optimal berpotensi memicu retak akibat pengeringan yang terlalu cepat.

Selain itu, komposisi campuran beton juga berpengaruh signifikan. Mutu beton sangat ditentukan oleh keseimbangan antara semen, agregat, pasir, dan air. Ketidaktepatan proporsi atau penggunaan material yang kualitasnya tidak seragam dapat menurunkan daya tahan beton terhadap beban dan perubahan lingkungan.

Faktor cuaca saat pengecoran turut menjadi variabel penting. Suhu tinggi, angin kencang, maupun hujan pada fase awal pengecoran dapat memicu penyusutan dini pada permukaan beton. Sementara itu, pembebanan kendaraan pada beton yang belum mencapai umur dan kekuatan desain juga berpotensi menyebabkan retakan awal.

Aspek lain yang tak kalah krusial adalah kondisi lapisan pondasi bawah. Tanah dasar yang kurang padat atau tidak merata dapat menimbulkan pergerakan, sehingga tekanan pada pelat beton menjadi tidak seimbang.

Pegiat pembangunan daerah, Rusdi, menilai kondisi tersebut perlu disikapi secara objektif dan profesional oleh seluruh pihak terkait.

โ€œRetak pada rabat beton yang baru selesai tentu perlu evaluasi menyeluruh. Bukan untuk mencari kesalahan, tetapi memastikan apakah pekerjaan sudah sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu. Ini penting agar fungsi jalan bisa berkelanjutan dan tidak merugikan masyarakat,โ€ ujar Rusdi kepada media, di Pangkajene, Kamis, 15 Januari 2026.

Menurutnya, proyek infrastruktur publik seharusnya tidak hanya dinilai dari penyelesaian fisik, tetapi juga dari ketahanan dan manfaat jangka panjangnya. Karena itu, transparansi evaluasi teknis menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Sidrap, CV Akbar, maupun CV Polygraf belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi retakan tersebut. Namun, sumber internal proyek menyebutkan bahwa dokumen mutu pekerjaan, hasil pengujian beton, serta catatan curing akan dievaluasi sebagai bagian dari pemeriksaan pascapelaksanaan.

Di sisi lain, warga Kelurahan Majeling mengaku khawatir terhadap daya tahan jalan tembus tersebut.

โ€œBaru beberapa minggu selesai, sudah terlihat retak di beberapa titik. Kami berharap ada perbaikan agar tidak makin parah dan mengganggu aktivitas warga,โ€ ujar salah seorang pengguna jalan.

Kalangan teknisi menilai, langkah yang paling tepat adalah melakukan pengujian laboratorium terhadap beton, audit administrasi pelaksanaan, serta evaluasi kondisi lapangan secara menyeluruh. Langkah ini dinilai penting untuk mengidentifikasi penyebab secara ilmiah dan menentukan tindakan korektif yang proporsional.

Berita ini akan terus diperbarui seiring adanya klarifikasi dan penjelasan resmi dari instansi maupun pihak pelaksana proyek. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *