Konawe Darurat Narkoba, BNNK : Bandar Besar Tak Tersentuh, Pengkhianat Bangsa

  • Bagikan
Silakan Bagikan:

Konawe, Fakta1.com — Malam Minggu, 24 Januari 2026, langit di atas ICP Inolobunggadue Central Park, Kecamatan Unaaha, tak sekadar diterangi cahaya lampu panggung. Kegiatan bertajuk Pentas Musik Edukatif Anti Narkoba itu menjadi magnet bagi ratusan warga. Dentuman musik menggema, memecah sunyi malam, mengalir dari petikan gitar hingga hentakan drum yang membakar semangat para penonton.

Namun malam itu bukan hanya tentang hiburan, di balik gemerlap cahaya dan sorak penonton, terselip pesan serius bahkan menggetarkan tentang ancaman nyata yang kini mengintai Konawe narkoba.

Penampilan Wekoila Band membuka acara dengan penuh energi. Band legendaris yang pernah berjaya di masanya itu sukses menghidupkan suasana dan membangkitkan antusiasme penonton. Namun perlahan, atmosfer berubah. Musik mereda, lampu sorot beralih ke satu titik, dan kerumunan mendadak hening.” Di tengah sorotan cahaya, Kepala BNNK Konawe, H. Bandus Tira Wijaya, A.Md., S.H., melangkah ke atas panggung.

Dengan tatapan tajam dan suara yang tak memberi ruang kompromi, ia membuka pernyataannya.

“Bandar dan kurir narkoba adalah pengkhianat Negara penghianat bangsa, kalian bukan anak Indonesia, Mereka bukan sekadar pelanggar hukum, tapi penjahat negara yang dengan sadar menghancurkan keluarga menghancurkan masa depan generasi sendiri.”

Kata-kata itu menghantam kesadaran publik. Bukan retorika kosong, melainkan peringatan keras yang lahir dari fakta di lapangan.

Ia kemudian mengungkap data yang membuat suasana semakin mencekam.
“Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, Konawe saat ini berada di posisi teratas dalam kasus penyalahgunaan narkotika.”

Nada suaranya meninggi, menyiratkan kegelisahan yang dalam. “Yang membuat saya heran, Konawe disebut nomor satu, tapi yang tertangkap hanya pengecer kecil. Gramannya sedikit, pelakunya itu-itu saja. Kalau memang peredaran besar, seharusnya yang ditangkap juga besar. Jangan yang ecek-ecek terus,” tegasnya.

Ia menegaskan, narkoba kini telah menjelma menjadi kejahatan luar biasa (extraordinary crime)—kejahatan yang menghancurkan sendi kehidupan, merusak keluarga, dan mencuri masa depan generasi muda.

“Mereka menghancurkan anak-anak kita, merusak tatanan sosial, dan menggerogoti masa depan daerah ini,” ujarnya lirih namun penuh tekanan.

Suasana yang tegang itu kemudian diimbangi dengan pesan penuh harapan dari Direktur RSUD Konawe, dr. H. Romi Akbar, Sp.An.TI.Subsp.TI(K)., FCTA.

Dengan nada tenang namun tegas, ia mengingatkan bahwa perang melawan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum.

“Pecandu bukan kriminal. Mereka adalah pasien yang harus diselamatkan,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelumnya, RSUD Konawe resmi menjalin kerja sama dengan BNNK Konawe untuk membuka layanan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba.

“Kami ingin RSUD Konawe menjadi pusat rehabilitasi yang komprehensif di Sulawesi Tenggara. Ini adalah bagian dari ikhtiar menyelamatkan generasi,” tegasnya.

Malam kian larut. Namun pesan semakin dalam saat Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE., M.Si., naik ke atas panggung.

Sorot lampu menyorot wajahnya yang tampak serius. Ia tidak datang dengan pidato seremonial, melainkan membawa kegelisahan seorang pemimpin yang melihat daerahnya berada di titik rawan.

“Apa yang kita hadapi hari ini bukan isu biasa. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini ancaman nyata bagi masa depan anak-anak kita,” ucapnya lantang.

Ia membeberkan fakta pahit: Konawe, yang dikenal religius dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kini justru masuk dalam zona merah peredaran narkoba di Sulawesi Tenggara.

“Yang paling menyedihkan, korban narkoba sekarang bukan hanya orang dewasa. Anak SMP, SMA, bahkan usia sekolah dasar sudah mulai terpapar. Ini sangat mengkhawatirkan,” katanya dengan nada getir.

Menurutnya, narkoba kini menyusup tanpa mengenal batas. “Ia tidak lagi mengetuk pintu. Ia masuk diam-diam, merusak dari dalam, dan menghancurkan masa depan tanpa kita sadari.”

Ia pun menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai benteng utama.
“Awasi anak-anak kita. Dengarkan mereka. Jangan takut membawa mereka ke BNNK jika ada tanda-tanda penyalahgunaan. Itu bukan aib, justru bentuk penyelamatan.”

Wakil Bupati memastikan, Pemerintah Daerah tidak akan tinggal diam.
“Perang melawan narkoba tidak bisa dilakukan sendiri. Ini harus menjadi gerakan bersama—pemerintah, aparat, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keluarga.”

Ia juga mengapresiasi langkah RSUD Konawe serta pendekatan edukatif melalui seni dan musik.

“Pendekatan seperti ini sangat efektif. Anak muda lebih mudah disentuh lewat seni dan dialog. Kita tidak hanya melarang, tapi mengajak mereka sadar.”

Menutup pernyataannya, H. Syamsul Ibrahim, SE., M.Si., menyampaikan pesan yang menggema kuat di tengah malam Konawe:

“Jika hari ini kita lalai, maka besok kita akan kehilangan generasi. “Tapi jika malam ini kita bersatu, maka Konawe masih punya harapan.”

Tepuk tangan pun membahana. Bukan sekadar apresiasi, melainkan tanda bahwa pesan itu telah menyentuh hati mereka yang hadir.

Konawe harus bangkit.
Konawe harus bersatu.
Dan Konawe harus bebas dari narkoba.(*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *