Ambisi 3 Periode Jokowi Yang Terungkap di Rakernas PSI
Di acara Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diselenggarakan di Makassar Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026), Presiden ke 7 RI, Joko Widodo (Jokowi) secara terang-terangan mengatakan akan bekerja mati-matian untuk membesarkan dan memenangkan PSI. Bahkan Jokowi juga menyatakan akan siap mendatangi seluruh Provinsi, Kota dan Kabupaten termasuk ribuan kecamatan di Indonesia demi dan untuk membesarkan dan memenangkan PSI.
Waowww…luar biasa sekali ambisi manusia yang ingin menjadi raja diraja ini. Belum juga sembuh dari sakitnya, belum juga redah berbagai kritikan masyarakat yang tertuju pada sepak terjang politiknya yang memiliki daya rusak dahsyat pada demokrasi dan sistem hukum bernegara, Jokowi ternyata tiada kapok-kapoknya terus memprovokasi para pejuang demokrasi di negeri ini.
Di acara Rakernas PSI yang dipenuhi oleh para politisi dadakan dan karbitan itu, Jokowi juga tiada pernah lupa untuk menunjukkan simbol-simbol budaya melalui topi adat yang digunakannya, hingga terkesan ia sebagai pemimpin politik yang sadar dengan kebudayaan. Padahal sejatinya, Jokowi –jika dilihat dari kebiasaannya– hanya menjadikan simbol-simbol kebudayaan itu untuk meraih simpati politik populisnya, yang sejatinya malah kerap merugikan rakyat.
Dalam buku ringkasan Disertasi Doktoral Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saya membaca, bahwa “pada masa Presiden Jokowi iklim feodalisme dibangun melalui strategi kebudayaan untuk memperkuat makna kekuasaan dengan simbol-simbol budaya. Penampilan Presiden Jokowi dengan simbolisasi raja melalui atribusi pakaian daerah dan perhelatan pesta perkawinan Kaesang Pangarep di Istana Mangkunegaran membangun persepsi bahwa presiden juga sosok raja”.
“Ketika kultur ini berhasil dibangun, maka aura feodalisme menyelimuti kekuasaan presiden. Hal inilah yang menjadi alasan rasionalitas kritis elite politik terbungkam. Dalam situasi ini Presiden Jokowi menggunakan otoritas kekuasaannya untuk membangun konsensus dengan para ketua umum partai politik pendukung dalam posisi yang tidak setara sebagaimana yang dijelaskan oleh Ranciere”. (Hasto Kristiyanto. (2024). Kepemimpinan Stategis Politik, Ideologi, Dan Pelembagaan Serta Relevansinya Terhadap Ketahanan Partai. Ringkasan Disertasi, hal. 42-43.).
Ya, Jokowi memang sangat ambisius untuk menjadi atau minimal dianggap sebagai raja, karena itu Jokowi menjadikan demokrasi dan konstitusi bernegara kita sebagai musuh utamanya. Ia yang rakus jabatan pernah meminta Ibu Megawati untuk merestuinya menjadi Presiden 3 periode, dan ketika kemauan rakusnya itu ditolak oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jokowi membangkang dan berkhianat.
Jokowi yang dari karakternya sudah nampak serakah jabatan, berusaha untuk tidak kehilangan akal. Ia kemudian mengkondisikan MK yang diketuai oleh adik iparnya, untuk mengeluarkan keputusan MK No. 90/PUU-xxi/2023, yang memberi jalan pada anaknya, yakni Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya belum cukup umur secara konstitusi, diloloskan untuk menjadi Cawapres 2024.
Gibran merupakan pilihan terakhir Jokowi untuk mewujudkan ambisi 3 periodenya, namun di tengah jalan Jokowi mulai sadar bahwa tanpa dukungan partai politik yang pasti, besar dan kuat, Gibran yang sudah menjadi Wapres bisa-bisa akan dihentikan di tengah jalan. Selain itu Gibran juga terancam untuk tidak mendapatkan dukungan nyapres di Pilpres 2029.
Jokowi kemudian ingin menjadi pemimpin di partai-partai politik besar, tapi sayang seribu sayang, Jokowi tertolak mentah-mentah, karena Jokowi sudah tidak lagi menjadi Presiden RI. Maka muncullah ide liar dan brutal Jokowi selanjutnya, yakni berusaha menahkodai PSI dengan cara menjadikan anaknya Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umumnya, meski Kaesang baru dua hari menjadi kader PSI. Itupun ditunjuk bukan melalui Kongres PSI, melainkan melalui kongkow-kongkow segelintir pengurusnya.
Jokowi akhirnya tahu, bahwa PSI ternyata hanya menjadi partai gurem, sebab Jokowi masih belum sadar elektabilitasnya dan kewibawaannya sudah anjlok di mata rakyat, kecuali jika dilihat dari hasil dongkrakan lembaga-lembaga survei yang dibayarnya, nama Jokowi masih bertengger di papan atas bersama Presiden Prabowo Subianto.
Jokowi kemudian berusaha sekuat mungkin untuk menggenjot kebesaran PSI. Ia mulai berusaha merubah logo PSI menjadi Gajah. Netizen meledeknya sebagai Partai Gak Ada Ijazah, tetapi Jokowi yang tebal muka maju terus, gelap mata dan berseloroh secara seragam seperti anaknya, Kaesang dan Kapolri Listyo Sigit yang diyakini banyak orang sebagai operator politiknya di Pemerintahan Prabowo-Gibran:
“Saya akan mati-matian membesarkan dan memenangkan PSI !”. Kalau Kaesang bahasanya:”Saya akan peras darah !”, kalau Kapolri bahasanya:”Saya akan berjuang sampai titik darah penghabisan !”. Hemmm…semuanya bahasanya nampak seragam, tidak jauh dari darah !.
Jokowi memang sosok manusia ambisius, megaloman yang tak bosan-bosannya berhalusinasi di masa post power syndrome-nya. Oleh sebab itu Jokowi tidak akan pernah berhenti beraksi demi dan untuk menjaga kekuasaannya, dengan cara apapun, termasuk meremote KPK, POLRI, serta mendongkrak partai gurem untuk menjadi besar dll.
Sudah berapa banyak kasus korupsi yang para tersangkanya diadili di Pengadilan Tipikor dan telah menyebut-nyebut keterlibatan diri dan keluarganya Jokowi, namun sampai saat ini, Jokowi jangankan diadili, dipanggil untuk dimintai keterangan di KPK atau Kejagung saja tidak pernah ! Bahkan yang terjadi, Jokowi malah terlihat berkali-kali menjadikan hukum sebagai instrumen untuk menghukum lawan-lawan politiknya.
Tom Lembong, Hasto Kristiyanto dll., merupakan tokoh-tokoh politik penting, lawan politik Jokowi yang pernah menjadi korban kriminalisasi hukum oleh Jokowi. Beruntung saja Penguasa Langit menyelamatkan kedua tokoh politik ini, hingga takdir menjadi berbalik menampar habis-habisan Jokowi, dengan adanya keputusan Presiden Prabowo Subianto yang disetujui oleh DPR RI, yakni Abolisi dan Amnesti, yang diberikan untuk Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto !.
Begitulah perangai politik Jokowi yang brutal dan bringas, kita tinggal menunggu saja ke depannya, bagaimana Banteng akan menyeruduk partai Curut yang bertopeng Gajah di pemilu 2029 kelak ! Sapere aude !…(SHE).
2 Februari 2026.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik.














