
KONAWE, FAKTA1.COM – Jeritan keprihatinan kembali disuarakan oleh Akademisi dan pemerhati pendidikan, Haedariah, S.Pd., M.Hum, yang menilai kondisi sosial di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, kian mengkhawatirkan. Ia menyebut secara terbuka menyuarakan kegelisahannya terkait maraknya penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, hingga degradasi moral di kalangan generasi muda.
Routa telah masuk kategori “zona merah” narkoba dan krisis moral yang mengancam masa depan generasi muda.
Dengan nada emosional, Haedariah mengungkapkan bahwa peredaran narkoba di wilayah tersebut seolah berlangsung terang-terangan.
“Harus bagaimana lagi saya meneriakkan bahwa Routa adiksi narkoba sangat memprihatinkan. Seolah mereka jualan seperti cengek dan ikan teri. Ini sudah menghancurkan generasi Routa, Pak,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena pelajar yang mengonsumsi minuman keras secara terbuka, bahkan tanpa rasa takut. Perilaku itu, menurutnya, bukan lagi kejadian tersembunyi, melainkan sudah menjadi pemandangan yang dianggap biasa.
Tak hanya itu, ia juga menyebut dugaan pengiriman barang haram dalam jumlah besar yang bukan lagi rahasia umum. Situasi ini diperparah dengan meningkatnya kasus pencurian yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan zat adiktif. Bahkan, peredaran alat kontrasepsi di kalangan pelajar disebutnya sudah menjadi rahasia umum, yang menurutnya mencerminkan krisis pembinaan dan lemahnya kontrol sosial.

Dalam pernyataannya yang lebih menyentuh, Haedariah juga menyinggung dampak kehadiran investasi tambang di wilayah tersebut. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan moral dan masa depan anak-anak daerah.
“Kalau hadirnya investasi tambang justru menghancurkan generasi muda, lalu untuk apa? Apa artinya kekayaan alam kalau anak-anak kita rusak? Jangan sampai yang tersisa hanya lubang tambang dan generasi yang kehilangan arah,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan seluruh pemangku kepentingan untuk tidak hanya fokus pada hasil tambang dan angka pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, keselamatan moral dan masa depan generasi Routa jauh lebih berharga daripada sekadar keuntungan materi.
“Mohon jangan cuma hasil tambang jadi perhatian. Anak-anak generasi Routa sedang menjerit dalam diam. Kalau ini terus dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan generasi, tapi kehilangan harapan,” ujarnya penuh harap.
Pernyataan ini menjadi alarm keras bagi semua pihak agar segera mengambil langkah konkret: penindakan tegas terhadap peredaran narkoba dan miras, penguatan pendidikan karakter, pengawasan lingkungan, serta pembinaan yang berkelanjutan bagi remaja.
Routa kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, potensi ekonomi dari investasi tambang menjanjikan kemajuan. Namun di sisi lain, ancaman kerusakan sosial membayangi.
Pertanyaannya, akankah pembangunan berjalan seiring dengan perlindungan generasi muda, atau justru meninggalkan luka yang sulit disembuhkan?. (*)










Tinggalkan Balasan