KONAWE,FAKTA1.COM – Pelatihan Basic Trauma and Life Support (BTCLS) yang diselenggarakan UPTD Puskesmas Puriala bekerja sama dengan Pusbangdiklat DPW PPNI Sulawesi Tenggara resmi ditutup, Selasa (17/2/2026), di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan kasus trauma dan kegawatdaruratan.

Ketua Panitia, Arisman, SE, dalam laporan resminya menyampaikan bahwa pelatihan BTCLS bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapsiagaan tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam melakukan penanganan awal pada kasus trauma dan kegawatdaruratan.

“Pelatihan ini diharapkan dapat menunjang peningkatan mutu pelayanan serta keselamatan pasien di unit kerja masing-masing, sejalan dengan visi Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe yakni Konawe Bersahaja di bidang kesehatan,” ujarnya.

Kegiatan dilaksanakan sejak Kamis, 12 Februari hingga 17 Februari 2026. Pelaksanaan dibagi menjadi tiga hari pembelajaran daring melalui Zoom dan dua hari skill station yang digelar secara langsung di Aula Dinas Kesehatan Konawe.

Sebanyak 27 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri dari 23 tenaga kesehatan UPTD Puskesmas Puriala, 1 orang dari UPTD Puskesmas Asinua, 2 orang dari UPTD Puskesmas Lambuya, serta 1 peserta dari UPTD Puskesmas Routa yang menjadi peserta terjauh.

Pelatihan ini bekerja sama dengan DPW PPNI Sulawesi Tenggara melalui lembaga Pusbangdiklat yang disebut sebagai satu-satunya lembaga pelatihan terakreditasi A Kementerian Kesehatan di Sulawesi Tenggara.

Materi yang diberikan meliputi prinsip penilaian awal pasien trauma, penatalaksanaan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi, penanganan perdarahan, imobilisasi, etika profesi, anti korupsi, hingga simulasi penanganan kegawatdaruratan sesuai standar pelayanan. Narasumber dan instruktur yang dihadirkan merupakan tenaga profesional tersertifikasi Kementerian Kesehatan dan berpengalaman di bidang kegawatdaruratan.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan peserta, Andi Kasmiati, S.Kep., Ns, menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti pelatihan. Ia mengaku pelatihan ini sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan dalam menangani kasus kegawatdaruratan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Sementara itu, penyampaian nilai akhir peserta dilakukan oleh Ns. Sudirman, S.Kep, yang sekaligus mengumumkan peserta terbaik dan dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan.

Sambutan juga disampaikan Ketua Pusbangdiklat DPW PPNI Sultra, Dr. Sapril, SKM., S.Kep., M.Sc, yang menegaskan pentingnya pelatihan berkelanjutan guna menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.

Kegiatan secara resmi ditutup oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe, Yones, SE., MM, yang diwakili Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinas Kesehatan Konawe, Muh. Hasrin, SKM., M.KM.

Dalam sambutannya, Muh. Hasrin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta dan panitia karena Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe tidak dapat hadir secara langsung. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya Kadis berencana untuk membersamai dan menutup kegiatan tersebut, namun karena adanya keluarga yang meninggal dunia, beliau meminta agar diwakilkan.

“Beliau sebenarnya berkeinginan hadir dan membersamai kegiatan ini, namun karena ada keluarga yang berpulang, maka beliau menugaskan saya untuk mewakili sekaligus menyampaikan arahan dan menutup kegiatan ini,” ungkap Muh. Hasrin.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan BTCLS dan berharap kompetensi yang diperoleh para peserta dapat diterapkan secara maksimal demi peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di Kabupaten Konawe.

Selain penyerahan piagam kepada peserta terbaik, kegiatan juga dirangkaikan dengan penyerahan plakat kerja sama antara PRL dan Pusbangdiklat PPNI sebagai simbol sinergi peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di daerah. Acara ditutup dengan menyanyikan Hymne PPNI secara bersama-sama.

Dalam laporannya, Arisman juga menyampaikan bahwa seluruh biaya pelatihan ditanggung secara mandiri oleh peserta. Ia berharap ke depan pelatihan serupa dapat diakomodir oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe.

Ia turut memohon dukungan untuk rencana pelaksanaan pelatihan Basic Obstetric and Neonatal Life Support (BONELS) pada April 2026 mendatang, yang ditujukan bagi tenaga bidan sebagai upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Konawe.

“Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Untuk itu, kami sangat mengharapkan masukan demi perbaikan di masa mendatang,” tutupnya.

Dengan berakhirnya pelatihan BTCLS ini, diharapkan seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh dalam pelayanan sehari-hari, sehingga kualitas layanan kesehatan di Kabupaten Konawe semakin meningkat.(*)