Konawe, fakta1.com- Dalam ruangan dingin ber-AC Gedung DPRD Konawe, Rapat Paripurna penyampaian Laporan Hasil Reses II Tahun 2026 berlangsung tertib dan penuh khidmat. Palu sidang berada di tangan pimpinan rapat, I Made Asmaya, S.Pd., MM, yang memimpin jalannya forum dengan tenang.

Satu per satu juru bicara fraksi menyampaikan laporan hasil reses dari daerah pemilihan masing-masing. Aspirasi masyarakat tentang infrastruktur, pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi mengalir dalam forum resmi tersebut.

Saat salah satu anggota dewan tengah membacakan poin laporan, ruangan seketika hening. Dari luar gedung, terdengar suara lantang melalui megafon. Suara itu datang dari sekelompok massa aksi yang mengatasnamakan diri sebagai lembaga yang aktif menyuarakan aspirasi masyarakat.

Seruan demi seruan terdengar jelas hingga ke dalam ruang sidang. Nada protes dan tuntutan mereka menambah ketegangan di tengah jalannya paripurna.

Pimpinan sidang, I Made Asmaya, segera mengambil sikap. Dengan tetap menjaga ketertiban forum, ia meminta beberapa anggota DPRD untuk menemui massa aksi di depan kantor guna membuka ruang dialog.

Beberapa perwakilan dewan pun keluar gedung, menemui massa yang telah berkumpul. Dialog berlangsung terbuka.

Aspirasi disampaikan secara langsung, dan pihak DPRD memberikan penjelasan serta komitmen untuk menindaklanjuti tuntutan sesuai mekanisme yang berlaku.
Setelah dilakukan dialog dan tercapai kesepahaman antara DPRD dan massa aksi, situasi di depan gedung kembali kondusif. Massa membubarkan diri secara tertib.

Tak lama berselang, para anggota dewan kembali memasuki ruang sidang. Pimpinan rapat kemudian mengetuk palu, menandakan paripurna kembali dilanjutkan.

“Forum ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Aspirasi masyarakat, baik yang disampaikan melalui reses maupun aksi langsung, tetap menjadi perhatian kita bersama,” ujar pimpinan sidang sebelum agenda dilanjutkan.

Rapat paripurna pun diteruskan hingga selesai. Momentum tersebut menjadi gambaran nyata dinamika demokrasi di Konawe di dalam ruangan resmi dibahas laporan aspirasi, sementara di luar gedung masyarakat menyuarakan tuntutan secara langsung.

Pada akhirnya, sidang ditutup dengan ketukan palu yang tegas. Paripurna selesai, namun pesan yang tertinggal jelas: suara rakyat, dalam bentuk apa pun, akan selalu menemukan jalannya untuk didengar.