
JAKARTA,, FAKTA1.COM– — Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengikuti konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Arab Saudi secara daring pada Kamis (2/4/2026). Forum global ini mempertemukan delapan negara Islam untuk membahas isu-isu strategis keagamaan dan kemanusiaan kontemporer.
Konferensi ini sejatinya direncanakan digelar secara langsung di Mekkah pada 1–4 April 2026. Namun, kondisi kawasan Timur Tengah yang belum stabil dan berdampak pada terganggunya penerbangan dari sejumlah negara peserta membuat pelaksanaan kegiatan dialihkan menjadi daring atau online.
Delapan negara yang terlibat dalam konferensi tersebut yakni Indonesia, Pakistan, Maroko, Kuwait, Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Gambia. Pertemuan ini menjadi ruang dialog lintas negara dalam merespons tantangan global, khususnya terkait krisis lingkungan dan peran agama dalam menjawab persoalan tersebut.
Dalam paparannya, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi krisis iklim, tetapi juga krisis nilai dan kemanusiaan. Ia menyebut persoalan lingkungan bukan sekadar isu suhu dan cuaca, melainkan menyentuh dimensi moral manusia.
“Ini bukan sekadar krisis suhu, melainkan krisis nurani. Bukan hanya gangguan cuaca, tetapi gangguan pada sistem nilai dan perilaku manusia,” ungkapnya dalam materi yang disampaikan .
- Muscab PPP Sidrap, Petahana Kuat—Penantang Mulai Menghitung Peluang
- Puluhan Orang Diamankan di Toraja–Enrekang, 7 Terindikasi Jaringan Lapas: Dikendalikan dari Balik Jeruji Sungguminasa?
- Sewa Helikopter Rp2 Miliar Itu Tak Pernah Ada. Tapi Ceritanya Terlanjur Terbang
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Menag juga menyoroti berbagai tantangan global seperti pemanasan global, krisis air dan pangan, hingga penurunan keanekaragaman hayati yang berdampak langsung terhadap stabilitas sosial dunia. Menurutnya, kondisi ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis sains dan teknologi, tetapi juga
Ia kemudian memperkenalkan konsep ekoteologi sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam menjaga keseimbangan alam. Dalam perspektif Indonesia, ekoteologi bukanlah mazhab baru, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai agama dalam praktik kehidupan sehari-hari.
- Muscab PPP Sidrap, Petahana Kuat—Penantang Mulai Menghitung Peluang
- Puluhan Orang Diamankan di Toraja–Enrekang, 7 Terindikasi Jaringan Lapas: Dikendalikan dari Balik Jeruji Sungguminasa?
- Sewa Helikopter Rp2 Miliar Itu Tak Pernah Ada. Tapi Ceritanya Terlanjur Terbang
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
“Ekoteologi adalah jembatan antara iman dan tanggung jawab, antara ibadah dan pelestarian kehidupan. Ini adalah panggilan moral untuk mengubah relasi manusia dengan alam dari eksploitasi menuju amanah,” jelasnya .
Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa Indonesia telah menjadikan ekoteologi sebagai bagian dari kebijakan strategis nasional melalui Kementerian Agama. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan yang menekankan harmoni antara manusia dan alam.
Dalam forum tersebut, Menag juga mengajak seluruh negara untuk menjadikan rumah ibadah sebagai contoh nyata dalam menjaga lingkungan, mulai dari pola konsumsi hingga perilaku hidup yang berkelanjutan.
“Melindungi bumi bukan pilihan tambahan yang bisa ditunda, tetapi merupakan kewajiban agama dan tanggung jawab moral,” tegasnya .
Konferensi internasional ini turut diikuti oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Bunyamin M. Yapid, yang mendampingi Menag dalam forum strategis tersebut.
Partisipasi Indonesia dalam konferensi ini menegaskan komitmen kuat dalam membawa nilai-nilai keagamaan sebagai solusi atas tantangan global, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi keagamaan di tingkat internasional.(*)








Tinggalkan Balasan