
JAKARTA, FAKTA1.COM – Skandal dugaan korupsi pengadaan laptop dan pembangunan jaringan di Badan Gizi Nasional (BGN) kini memasuki babak baru yang krusial.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bersama Kejaksaan Agung RI dikabarkan telah memulai penyelidikan mendalam terkait proyek bernilai fantastis tersebut yang diduga merugikan negara hingga setengah triliun rupiah.
Potensi Kerugian Negara Fantastis
Berdasarkan informasi valid dari internal BGN yang diterima Sekretariat Nasional PPWI dan diperkuat hasil investigasi lapangan, potensi kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan mencapai hampir Rp500 miliar.
Angka ini memicu gelombang kemarahan publik. Pasalnya, anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) diketahui bersumber dari pemangkasan dana sektor krusial, termasuk:
– Anggaran Pendidikan Nasional.
– Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua.
Respons Tegas PPWI: “Ikan Sepat Ikan Gabus”
Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, memberikan pernyataan keras mendukung langkah aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas perkara ini tanpa kompromi.
“Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus.
Penuntasan kasus ini harus segera dilakukan agar uang negara yang diperuntukkan bagi generasi penerus bangsa tidak sia-sia. Sangat menyakitkan jika dana yang dipangkas dari pendidikan dan Otsus Papua justru berakhir di kantong para koruptor,” tegas Wilson, Minggu (19/4/2026).
Desakan Pembersihan Total di Tubuh BGN
Informasi internal mengindikasikan adanya dugaan sabotase sistematis
– Pencopotan Kepala BGN (Dadan Hindayana): Publik menyoroti latar belakang Dadan sebagai ahli serangga yang dinilai tidak relevan dengan urusan gizi. Selain itu, rekam jejaknya terkait kasus korupsi Dana Hibah Pemda Halmahera Barat di masa lalu kembali menjadi sorotan tajam.
– Evaluasi Wakil Kepala BGN (Sony Sanjaya): Tuntutan pencopotan juga diarahkan kepada Wakil Kepala BGN dari unsur Polri tersebut beserta kroninya, yang dinilai gagal menjaga integritas lembaga.
Ujian Komitmen Antikorupsi Pemerintah
Kasus yang dijuluki sebagai skandal “Laptop Siluman” ini kini dianggap sebagai ujian pertama bagi komitmen antikorupsi pemerintahan baru. Keberhasilan program gizi nasional sangat bergantung pada keberanian Presiden untuk melakukan pembersihan total dari oknum yang disebut sebagai “bandit berdasi.”
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kejaksaan Agung terus melakukan pengumpulan bukti-bukti terkait aliran dana proyek tersebut. Publik kini menanti langkah nyata pemerintah: menegakkan hukum demi masa depan anak bangsa atau membiarkan integritas program nasional ini runtuh.
(TIM/Red)








Tinggalkan Balasan