
LUSAKA, ZAMBIA – Di tengah ancaman disrupsi informasi dan polusi digital yang kian masif, Ketua Dewan Pers Indonesia, Komaruddin Hidayat, menyerukan peran sentral pers berkualitas sebagai penjaga nalar publik.
Pidato kunci tersebut disampaikan dalam pembukaan peringatan World Press Freedom Day (WPFD) 2026 yang diselenggarakan oleh UNESCO di Mulungushi International Conference Centre, Lusaka, Zambia, Minggu (3/5).
Dihadapan ratusan delegasi dari 120 negara, Komaruddin menegaskan bahwa jurnalisme saat ini memikul beban sejarah yang besar.
”Hari ini kita tidak sekadar berkumpul untuk merayakan kebebasan berpendapat. Lebih dari itu, ini merupakan momen pengingat bahwa kita sedang memikul tanggung jawab besar untuk ikut serta membangun peradaban dan menjaga perdamaian antara sesama penduduk bumi,” ujar Komaruddin.
Benteng Terakhir Akal Sehat
Konferensi tahun ini mengusung tema “Pers Berkualitas untuk Masa Depan yang Damai dan Adil”. Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, tema ini sangat relevan mengingat manipulasi data dan disinformasi sering kali menjadi sumbu konflik dan polarisasi di berbagai belahan dunia.
Dalam orasinya, Komaruddin memaparkan dua peran strategis pers yang harus dijaga ketat:
- Instrumen Keadilan: Pers bukan sekadar penyampai pesan, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. “Ketika ruang digital dipenuhi hoaks, jurnalisme yang memverifikasi fakta adalah benteng terakhir akal sehat,” tegasnya.
- Pilar Demokrasi Berkelanjutan: Ia mengingatkan bahwa tanpa informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, demokrasi akan menjadi rapuh
dan mudah dirusak oleh arus disinformasi destruktif.TRENDING
Tantangan Serupa di Indonesia
Komaruddin menyoroti bahwa tantangan yang dihadapi dunia internasional juga dirasakan secara nyata di Indonesia.
Dewan Pers mencatat sejumlah isu krusial seperti banjir disinformasi menjelang tahun politik, ancaman kekerasan digital terhadap jurnalis, hingga tekanan ekonomi yang mengancam independensi ruang redaksi.
Sebagai solusi, ia menekankan perlunya kerja kolektif. “Negara wajib menjamin kebebasan pers, pemilik media menjaga marwah redaksi, jurnalis memegang teguh kode etik, dan publik harus menjadi konsumen yang kritis,” tambahnya.
Komitmen Global
Peringatan WPFD 2026 di Zambia ini akan berlangsung hingga 5 Mei 2026. Agenda selanjutnya akan mencakup sesi pleno mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) dalam jurnalisme, perlindungan jurnalis di wilayah konflik, serta peluncuran laporan tahunan kebebasan pers global.
Sebagai bentuk komitmen aktif dalam jejaring pers dunia, Indonesia mengirimkan delegasi gabungan yang terdiri dari perwakilan Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Di akhir pidatonya, Komaruddin memberikan pesan kuat bagi insan pers di tanah air: “Di tengah godaan klik dan viral, pegang teguh akurasi. Karena hanya dengan pers berkualitas, kita bisa merawat demokrasi dan memastikan masa depan yang damai dan adil.”








Tinggalkan Balasan