
BOGOR, FAKTA1.COM – Nama Susanah (38), warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih berada di pusaran perhatian publik. Usai melenggang ke Jakarta dan namanya diungkit langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR/DPR 14 Agustus lalu, ketenangan hidupnya kini terusik oleh gelombang sorotan media dan masyarakat.
Teranyar, kediaman sederhana milik Susanah mendadak menjadi perbincangan hangat. Bukan karena prestasi baru, melainkan akibat terpasangnya gulungan garis pembatas (police line) berwarna kuning di sekeliling area rumahnya. Pemandangan khas tempat kejadian perkara (TKP) ini sontak memantik tanda tanya besar.
Apakah rumah seorang warga biasa mendadak menjadi lokasi investigasi tindak pidana?
Langkah Darurat Lindungi Psikologis Keluarga
Menjawab kesimpangsiuran tersebut, perangkat Rukun Tetangga (RT) setempat menegaskan bahwa pemasangan garis pembatas bukan karena adanya kasus hukum. Langkah tersebut merupakan inisiatif darurat dari aparat lingkungan—mulai dari Ketua RW, kepala dusun, hingga kepala desa—guna meredam masifnya kedatangan awak media dan warga luar.
Langkah perlindungan ini diambil untuk menjaga kondisi psikologis keluarga, terutama anak-anak Susanah yang dinilai belum siap menghadapi gempuran kamera dan ketenaran instan.
”Takutnya, khawatirnya mungkin jiwa anak-anaknya belum siap dengan kondisi yang tiba-tiba orang tuanya viral,” ungkap Iis, istri Ketua RT setempat.
Ia menambahkan, garis pembatas tersebut tidak menutup akses secara total, melainkan berfungsi sebagai kendali agar para
Kontroversi Data Upah dan Profesi Asli
Pemasangan garis pembatas ini kian mempertebal drama panjang di balik viralnya sosok Susanah. Sebelumnya, Presiden Prabowo memperkenalkan Susanah di hadapan Sidang MPR sebagai sosok buruh harian pengupas bawang dengan penghasilan yang terbilang fantastis, yakni mencapai Rp700.000 per kilogram.
Namun, klaim tersebut membentur fakta di lapangan. Kesaksian warga sekitar dan pihak keluarga mengungkapkan tak ada aktivitas pengupasan bawang di wilayah tersebut.
Pekerjaan harian Susanah sebenarnya adalah pembuat kain lap majun dengan upah Rp700 per kilogram—bukan Rp700.000—serta bekerja sebagai petugas pencuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hingga saat ini, Susanah bersama suaminya, Didim, dikabarkan masih berada di Jakarta setelah menghadiri rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pihak Istana akan segera mengecek kembali keselarasan data terkait klaim upah yang sempat disampaikan.
Di tengah rumahnya yang kini dibatasi garis kuning, publik menanti akhir dari polemik ini: apakah narasi yang sampai ke hadapan kepala negara murni akibat kekeliruan data, ataukah ada fakta lain yang belum terungkap? (Tim/*)









Tinggalkan Balasan