
KONAWE, FAKTA1.COM – Gedung Wekoila, Unaaha, Sabtu (31/10/2026), menjadi saksi sebuah momentum penuh kebanggaan. Ratusan putra-putri terbaik Kabupaten Konawe berdiri mengenakan toga, menandai berakhirnya perjalanan panjang di bangku kuliah sekaligus dimulainya babak baru kehidupan mereka.
Namun, di balik senyum bahagia para wisudawan dan keluarga yang hadir, terselip sebuah pesan besar tentang masa depan daerah. Bahwa gelar sarjana bukan sekadar kebanggaan keluarga, bukan pula hanya selembar ijazah yang dibawa pulang. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk ikut membangun tanah kelahiran.
Pesan tersebut mengemuka dalam Wisuda Sarjana ke-XXXI Universitas Lakidende (Unilaki), ketika Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., berdiri di hadapan civitas akademika dan para tamu undangan untuk berbicara tentang arah pembangunan daerah.
Di hadapan ratusan lulusan, Yusran tidak hanya menyampaikan ucapan selamat. Ia membawa realitas Konawe ke tengah suasana wisuda, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan angka menggembirakan hingga persoalan kemiskinan yang masih membutuhkan perhatian serius.
Ada capaian yang patut dicatat, tetapi ada pula pekerjaan besar yang belum boleh ditinggalkan.
Yusran mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Konawe pada 2025 mencapai 12,28 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi salah satu gambaran perkembangan aktivitas perekonomian daerah.
Di tengah geliat pembangunan dan aktivitas berbagai sektor usaha, angka itu menjadi catatan penting bagi perjalanan ekonomi Konawe.
Namun, bagi masyarakat yang hidup di desa-desa, di wilayah pertanian, maupun di kawasan permukiman, pertumbuhan ekonomi tentu tidak cukup hanya terdengar melalui angka statistik. Masyarakat membutuhkan bukti nyata berupa peningkatan pendapatan, terbukanya lapangan pekerjaan, dan kehidupan yang semakin sejahtera.
Di sinilah tantangan pembangunan sesungguhnya berada.
Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan. Kemajuan daerah tidak semestinya hanya terlihat dari angka, tetapi juga harus terasa dalam kehidupan masyarakat.
Pada sektor kesejahteraan, Yusran turut memaparkan perkembangan angka kemiskinan Kabupaten Konawe yang mengalami penurunan dari 13,25 persen pada 2024 menjadi 12,78 persen pada 2025.
Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan yang disampaikan pemerintah daerah. Meski demikian, angka tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih membutuhkan kerja panjang dan berkelanjutan.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya bukan hanya bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi tetap bergerak, tetapi bagaimana memastikan masyarakat di seluruh wilayah Konawe dapat merasakan manfaat pembangunan.
Dalam kesempatan itu, Yusran menyampaikan pesan yang menggambarkan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam membangun daerah.
“Kita mencintai Konawe dengan memahami keadaannya, mengenali kebutuhannya, kemudian mengambil bagian dalam memperbaiki kehidupan masyarakatnya,” tegas Yusran.
Pernyataan tersebut seolah menjadi pengingat bagi para sarjana yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahwa mencintai daerah tidak cukup hanya dengan mengucapkan kebanggaan sebagai putra-putri Konawe, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan dan kontribusi nyata.
Sarjana Jangan Hanya Mencari Kerja, Konawe Membutuhkan Pemikir dan Penggerak
Di tengah haru dan kebahagiaan prosesi wisuda, Yusran juga menitipkan tantangan kepada para lulusan Unilaki.
Ia mengingatkan bahwa gelar akademik tidak seharusnya menjadi garis akhir perjuangan. Justru setelah menyandang gelar sarjana, para lulusan dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.
Konawe, menurutnya, membutuhkan generasi terdidik yang tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan gagasan, membuka peluang, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan daerah.
Sebab, masih banyak potensi Konawe yang membutuhkan sentuhan pemikiran dan keahlian generasi muda.
Mulai dari sektor pertanian yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat, perkembangan industri yang terus membutuhkan sumber daya manusia berkualitas, hingga pengelolaan sumber daya air yang harus dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
“Kita membutuhkan lulusan yang mampu membaca persoalan, mengolah pengetahuan, dan menghasilkan penyelesaian yang dapat digunakan masyarakat,” ujarnya.
Pesan itu menjadi relevan bagi daerah seperti Konawe, yang memiliki potensi sumber daya alam dan peluang pembangunan di berbagai sektor. Potensi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga keberanian untuk turun langsung menjawab kebutuhan masyarakat.
Konawe Bersahaja, Pembangunan yang Harus Dirasakan Hingga Pelosok
Lebih jauh, Yusran kembali menegaskan arah pembangunan Kabupaten Konawe melalui visi Konawe Bersahaja, yakni Berdaya Saing, Sejahtera, Adil, dan Berkelanjutan.
Visi tersebut menjadi landasan dalam mendorong pembangunan daerah agar tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan pemerataan dan keberlanjutan.
Sebab, membangun Konawe bukan semata-mata menghadirkan proyek pembangunan, meningkatkan angka investasi, atau mencatat pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, membuka kesempatan bagi generasi muda, serta menghadirkan kehidupan yang lebih baik hingga ke pelosok desa.
Dalam konteks inilah, peran perguruan tinggi dan para sarjana menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan daerah.
Wisuda yang mengusung tema “Dari Almamater untuk Masyarakat: Berani Bermimpi, Bertumbuh, dan Mengabdi” tersebut turut dihadiri sejumlah undangan, di antaranya Kepala Biro Umum Kemendagri Asmawa Tosepu, perwakilan LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara Dr. Syahruddin, Ketua DPRD Konawe I Made Asmaya, serta Ketua Yayasan Lakidende.
Kehadiran para undangan tersebut menambah makna penting pelaksanaan wisuda sebagai momentum akademik sekaligus ruang menyampaikan harapan bagi masa depan daerah.
Pada akhirnya, Sabtu di Gedung Wekoila itu bukan hanya tentang toga yang dilepas, gelar yang disandang, atau keluarga yang pulang dengan membawa kebanggaan.
Ada pesan yang lebih besar untuk dibawa pulang oleh para sarjana: bahwa Konawe masih membutuhkan banyak tangan untuk bekerja, banyak pikiran untuk melahirkan gagasan, dan banyak anak daerah yang bersedia mengabdikan ilmunya.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan Konawe bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicatat, melainkan seberapa jauh kemajuan itu mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Dan bagi ratusan sarjana yang hari itu resmi menyandang gelar akademik, wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.
Justru dari Gedung Wekoila, perjalanan pengabdian kepada masyarakat dan tanah kelahiran baru saja dimulai.







Tinggalkan Balasan