
Konawe, Fakta1.com — Sebanyak 115 penari kolosal hasil kolaborasi sanggar seni di Kabupaten Konawe dipastikan siap tampil dalam pertunjukan besar pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Konawe yang akan digelar pada 15 April 2026.
Para penari merupakan hasil seleksi ketat dari sekitar 300 peserta yang berasal dari berbagai sekolah di Konawe. Proses pembinaan telah berlangsung lebih dari dua bulan dengan melibatkan empat sanggar seni, yakni Sanggar Wekoila,
Sanggar Anawula SMKN 1 Konawe, Sanggar Konawe Dance Company, dan Sanggar Anaway. Keempat sanggar ini bersatu dalam satu visi untuk menampilkan pertunjukan tari kolosal yang mengangkat potensi seni dan budaya lokal.
Salah satu pelatih, Sri Susanti, S.Pd., M.Pd., Gr., menjelaskan bahwa latihan dilakukan secara konsisten, termasuk selama bulan Ramadan dengan penyesuaian waktu. “Latihan tetap berjalan, biasanya dimulai pukul 16.00 hingga 17.00,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam proses pembinaan adalah menyatukan karakter peserta yang beragam, baik dari segi kedisiplinan maupun kemampuan menangkap gerakan. Meski demikian, menjelang hari pelaksanaan, para penari kini semakin intensif berlatih dan mulai beradaptasi dengan panggung utama setelah sebelumnya berlatih di Gedung Wekoila.
Hari Ulang Tahun Kabupaten Konawe menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mengenang sejarah daerah melalui seni pertunjukan. Dalam kesempatan ini, tari kolosal yang ditampilkan berjudul “Kalosara Wekoila” dengan tema
“Menenun Damai di Tanah Konawe.”
Tarian ini mengangkat kisah konflik berkepanjangan antara tiga kelompok masyarakat Tolaki pada masa awal berdirinya Kerajaan Konawe. Di tengah perpecahan tersebut, hadir sosok wanita agung, Wekoila, yang dengan kebijaksanaan dan kharismanya mampu menyatukan kelompok-kelompok yang bertikai tanpa kekerasan.
Melalui simbol suci
Secara dramatik ucap Sri Susanti , tarian ini menggambarkan perjalanan masyarakat Konawe dari masa konflik akibat ego dan perpecahan, hingga hadirnya Wekoila sebagai pemimpin bijaksana yang membawa kedamaian. Melalui Ritual Kalosara, ketiga kelompok akhirnya bersatu dalam harmoni dan kehidupan berubah menjadi damai serta penuh suka cita.
Selanjutnya, digambarkan pula kedatangan para perantau yang membawa keberagaman. Perbedaan tersebut kemudian berbaur dengan budaya lokal, menciptakan interaksi yang melahirkan kebersamaan, pembelajaran, dan persaudaraan. Puncaknya, seluruh masyarakat bersatu dalam tarian Lulo sebagai simbol persatuan tanpa perbedaan, dengan Kalosara sebagai lambang gotong royong dan masa depan Konawe yang harmonis.
Sri Susanti berharap para penari dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus menjaga kekompakan tim.
“Saya berharap anak-anak bisa tampil maksimal, percaya diri, dan tetap menjaga kekompakan. Ini bukan hanya tentang tampil, tetapi juga tentang proses belajar, disiplin, dan kerja sama,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar para peserta terus mengembangkan bakat seni yang dimiliki dan menjadikan pengalaman ini sebagai langkah awal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi.
Pertunjukan tari kolosal ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi budaya serta kebanggaan bagi masyarakat Konawe dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.(*)








Tinggalkan Balasan