Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6787 Lihat semua

SIDRAP, FAKTA1.COM – Di balik hingar-bingar industri di Morowali, ada tetesan keringat rakyat kecil di Tanete, Sidrap, yang dikhianati. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Kecamatan Maritengngae kini bukan lagi sekadar masalah logistik, melainkan sebuah skandal distribusi yang diduga kuat didalangi oleh praktik mafia BBM lintas daerah.

Nama seorang oknum berinisial IL mencuat ke permukaan. Ia dituding menjadi “aktor intelektual” di balik menguapnya stok Solar di SPBU lokal demi memenuhi pundi-pundi pribadi melalui pengiriman gelap ke wilayah industri Morowali.

Modus Operandi: Menguras Lokal demi Keuntungan Global
Praktik yang dilakukan IL diduga bukan sekadar aksi pengecer kecil, melainkan operasi sistematis. Berdasarkan penelusuran dan laporan warga, IL disinyalir rutin menguras pasokan BBM subsidi dalam skala besar.

BBM yang seharusnya menjadi hak petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro di Tanete, justru “dilarikan” keluar daerah menggunakan armada rahasia. Akibatnya fatal: Stok BBM di Tanete kritis, sementara antrean warga memular tanpa kepastian.

“Kami ini pemilik sah subsidi itu, tapi kenapa kami yang harus mengemis di tanah sendiri? Antre berjam-jam hanya untuk melihat papan ‘BBM Habis’, sementara mereka (pelangsir) bebas

keluar masuk membawa jeriken dan tangki modifikasi,” keluh seorang warga dengan nada geram.

Rakyat Kecil Jadi Tumbal
Dampak dari dugaan praktik “pelangsiran” ini mencekik ekonomi akar rumput. Kendaraan roda dua milik buruh harian dan mesin-mesin operasional UMKM terpaksa mandek. Tanete, yang seharusnya mendapat prioritas distribusi, kini hanya menjadi “tempat transit” yang ditinggalkan dalam keadaan kering kerontang.

Ketidakseimbangan ini memicu kecurigaan besar: Bagaimana mungkin pengiriman skala besar lintas provinsi bisa melenggang mulus tanpa terdeteksi?

Desakan Hukum: Jangan Biarkan Hukum “Masuk Angin”
Publik kini menuntut keberanian aparat penegak hukum (APH) untuk bertindak tegas, bukan sekadar melakukan pengawasan formalitas. Masyarakat mendesak tiga langkah nyata:

Seret Oknum IL: Lakukan penyelidikan menyeluruh terhadap aliran distribusi yang dikelola IL dan jaringannya.

Audit SPBU: Periksa keterlibatan oknum operator atau pengelola SPBU yang diduga “main mata” dengan para pelangsir.

Blokade Jalur Gelap: Perketat pengawasan di jalur keluar daerah guna memastikan BBM subsidi tetap berada di tangan yang berhak.(*)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.