
Sidrap, fakta1.com – Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi hari itu. Bahkan waktu pun terasa berjalan lebih lambat, seolah memberi jeda bagi hati yang sedang diuji.
Di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Senin pagi (30/3/2026), langkah-langkah terasa berat. Orang-orang berdiri dalam diam. Tak banyak suara. Hanya tatapan yang saling memahami—bahwa hari ini bukan hari biasa.
Makam Muhammad Taufik dibuka kembali.
Tanah yang dulu ditabur dengan doa kini disingkirkan satu per satu. Setiap cangkul yang menghantam tanah seperti mengetuk perasaan keluarga—pelan, tapi dalam.
Di sisi lain, Hati—istri almarhum—tak mampu lagi membendung air mata. Ia berdiri dengan tubuh yang sesekali bergetar. Mungkin dalam benaknya, kenangan demi kenangan bermunculan. Tawa, percakapan, hingga momen terakhir bersama suaminya.
Kini, semua itu kembali hadir dalam satu waktu—bersamaan dengan terbukanya makam.
Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan itu.
Keluarga besar datang dari berbagai penjuru. Mereka tidak banyak bicara. Cukup saling mendekat, saling menepuk bahu, seolah berkata: “Kita kuat bersama.”
Di antara mereka, Safaruddin Daeng Nompo terlihat berusaha tegar. Ia menjadi penopang bagi keluarga lain. Tapi di balik ketenangan itu, tersimpan rasa kehilangan yang sama.
Sementara itu, di rumah, Jumasari Daeng Kanang hanya bisa menunggu. Seorang ibu yang memilih tidak datang—bukan
Ia menunggu kabar. Menunggu dengan doa yang mungkin tak pernah putus sejak pagi.
Pukul 09.28 WITA, doa bersama dipanjatkan. Suara lirih terdengar, beberapa tersendat oleh tangis. Di momen itu, semua orang seakan menyerahkan harapan mereka pada Yang Maha Kuasa.
Setelahnya, tim Polda Sulawesi Selatan melalui Dokpol masuk ke dalam tenda putih bersekat biru. Pintu tertutup rapat.
Di dalam, proses berjalan. Di luar, waktu terasa menggantung.
Keluarga menunggu dalam diam. Tidak ada yang berani berspekulasi. Tidak ada yang ingin berharap terlalu tinggi. Tapi di dalam hati, ada satu doa yang sama: semoga kebenaran benar-benar terungkap.
Karena bagi mereka, ini bukan sekadar proses hukum.
Ini adalah kesempatan terakhir untuk memahami kepergian orang yang mereka cintai.
Dan ketika tanah kembali dibuka, yang sebenarnya terbuka bukan hanya makam—tapi juga luka yang selama ini berusaha mereka kubur dalam-dalam.
Hari itu, Sidrap tidak hanya menyaksikan sebuah proses forensik. Tapi juga menyaksikan betapa dalamnya cinta sebuah keluarga—yang bahkan setelah kehilangan, masih terus berjuang mencari jawaban. (*)








Tinggalkan Balasan