
Fakta1.com, Makassar, 17 Agustus 2025 — Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini memproklamasikan kemerdekaan dengan darah dan air mata perlawanan rakyat. Namun hari ini, kami berdiri bukan sebagai warga negara yang merdeka, melainkan sebagai rakyat yang tertindas di tanah kelahiran kami sendiri.
Di bawah rezim Prabowo Subianto, demokrasi dipreteli. Suara rakyat dipaksa bungkam, kritik dipersekusi. Kami merasakan langsung bagaimana hidup kian sulit: harga kebutuhan melambung, tanah rakyat dirampas, keadilan hanya milik mereka yang berkuasa dan berduit. Kami, bersama jutaan rakyat lain, diperlakukan bukan sebagai pemilik negeri ini, tetapi sebagai beban yang harus dikendalikan.
Dirgahayu ke-80 bukanlah perayaan bagi kami. Ia adalah pengingat luka, pengingat bahwa kemerdekaan sejati masih jauh dari genggaman. Merdeka tidak lahir dari seremoni dan slogan kosong, melainkan dari keberanian rakyat melawan penindasan, dari keberanian untuk berdiri dan berkata: cukup sudah!
Kami rakyat kecil, kami korban dari kekuasaan yang serakah. Tetapi kami tidak akan diam. Api perlawanan yang diwariskan para pendiri bangsa harus terus dijaga, agar cita-cita kemerdekaan tidak hilang ditelan kerakusan penguasa.
Merdeka bukan hadiah, merdeka adalah perjuangan yang tak pernah selesai.( tim )










Tinggalkan Balasan