Lebih lanjut, Yusran Akbar menekankan bahwa Lembaga Adat Tolaki memiliki peran strategis sebagai benteng moral masyarakat, penjaga nilai-nilai kebersamaan, serta penengah dalam berbagai persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat. Ia juga menyebut lembaga adat sebagai elemen penting dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan.
Selain fungsi sosial dan budaya, Bupati Konawe juga menyoroti potensi ekonomi berbasis budaya yang dimiliki masyarakat Tolaki. Ia mendorong pengembangan pariwisata adat, seni dan tradisi, kain tenun, serta kuliner khas Tolaki sebagai kekuatan ekonomi daerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya Tolaki, Yusran Akbar mengungkapkan rencana pembangunan Tugu Monumen Kalosara sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tolaki.
“Sebagai bentuk kebanggaan kita bersama sebagai Suku Tolaki, saya berkomitmen untuk membangun Tugu Monumen Kalosara. Monumen ini dirancang dengan tinggi kurang lebih 35 meter, memiliki lingkar bundar berdiameter sekitar 100 meter, serta dilengkapi lampu-lampu hias berkelap-kelip agar tampil lebih indah dan menjadi ikon kebudayaan Tolaki di Kabupaten Konawe,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Bupati Konawe juga menyampaikan rencana pembangunan Museum Budaya Tolaki. Museum tersebut direncanakan menjadi pusat dokumentasi, penyimpanan, dan pameran berbagai benda bersejarah, peninggalan adat, serta kekayaan budaya Tolaki yang dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda dan daya tarik wisata budaya bagi pengunjung dari luar daerah.
Dengan dikukuhkannya pengurus Lembaga Adat Tolaki di seluruh kecamatan, Pemerintah Kabupaten Konawe berharap nilai-nilai kearifan lokal dapat terus hidup, dijaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang, serta menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkarakter, berbudaya, dan berkeadaban (*)














