Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6718 Lihat semua

Kekalahan Israel dan Amerika Serikat Melawan Iran di Timur Tengah Akan Melahirkan Tatanan Dunia Yang Baru
Oleh : Jacob Ereste

Kekuatan Rakyat dan Negara Iran mengahadapi gempuran Israel dan Amerika Serikat, memang sulit dipatahkan, karena Iran berbasis pada kekuatan spiritual yang tidak dimiliki oleh Israel maupun Amerika Serikat, sehingga berbagai gempuran yang dilakukan dapat dipatahkan, bahkan sejumlah pusat pertahanan tentara Amerika Serikat yang ada di sejumlah negara Timur Tengah dapat dihancurkan hingga Donald Trump mengalami frustasi dan kecewa berat. Bahkan ragu untuk melakukan serangan darat yang sudah disesumbarkan sejak beberapa waktu silam tak juga kunjung dilakukan. Karena Donald Trump sendiri sudah mulai ragu dan tidak yakin untuk menguasai Selat Hormuz yang menjadi bagian dari strategi Iran untuk menekan dunia internasional yang mulai kelimpungan akibat pasukan bahan bakar minyak yang sesungguhnya hendak dikuasai oleh Amerika Serikat seperti yang sudah dilakukan di berbagai negara lain di dunia.

Strategi Iran menguasai Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan minyak dunia telah membuat Amerika Serikat frustrasi karena gagal menguasai

jalur perdagangan itu yang dijadikan Iran sebagai penekan ekonomi dunia. Bahkan, sikap frustrasi Donald Trump terkesan dari tindakannya memecat Jaksa Agung Pam Bondi secara mendadak dari jabatannya sebagai penegak hukum tertinggi di Amerika Serikat, terkait dengan penanganan kasus Jeffrey Apstein. Kasus Apstein sendiri telah menjadi sorotan publik dengan banyak pihak yang menuntut transparansi dan keadilan.

Pan Bondi sendiri sebagai Jaksa Agung telah berjanji akan membuka daftar klien yang diduga terkait Apstein. Dan pemecatan Pan Bondi juga kuat diduga sebagai dampak dari tekanan Kongres terhadap Pemerintah Amerika Serikat yang semakin rapuh.

Tekanan Kongres Amerika Serikat terhadap pemerintah terjadi dari perbedaan pendapat hingga berujung pada penutupan alokasi anggaran tahun fiskal 2026 terkait dengan tingkat pengeluaran federal, bantuan dana untuk luar negeri dan subsidi asuransi kesehatan. Akibatnya sekitar 900.000 pegawai federal mengalami furlough dan sekitar 700.000 lainnya tetap berkerja namun tiada gaji.