KONAWE — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe di bawah kepemimpinan Bupati H. Yusran Akbar, ST., terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan visi “Konawe Bersahaja”. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program strategis, seperti penguatan ketahanan pangan, penurunan angka kemiskinan, percepatan penanganan stunting, hingga pembangunan infrastruktur yang menjangkau wilayah pelosok.

Namun, di tengah deretan capaian itu, pelaksanaan Expo Pembangunan Konawe yang digelar di kawasan eks MTQ Unaaha kembali menuai sorotan publik. Sejumlah pihak menyoroti prioritas penggunaan anggaran dan mempertanyakan manfaat langsung kegiatan tersebut bagi masyarakat.

Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lakidende (Unilaki), Andriko, menegaskan pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa peran intelektual tidak berhenti pada kritik semata.

“Tidak ada yang melarang untuk mengkritik, tetapi sebagai kalangan intelektual seharusnya kita juga memberi solusi. Kritik yang konstruktif harus disertai tawaran alternatif nyata demi kemajuan daerah,” ujar Andriko.

Ia menambahkan, diskursus publik semestinya diarahkan pada gagasan yang aplikatif seperti usulan mekanisme pengukuran dampak kegiatan expo terhadap kesejahteraan masyarakat, model pelibatan desa dalam perencanaan anggaran, hingga langkah efisiensi yang tidak mengurangi ruang partisipasi warga.

Lebih lanjut, Andriko menilai bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan antara kritik dan kolaborasi. Menurutnya, idealisme kaum muda tidak boleh padam, tetapi juga harus diiringi dengan semangat membangun bersama.

“Mahasiswa harus hadir bukan hanya sebagai pengkritik, tapi juga sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menciptakan perubahan positif. Kritik itu penting, tapi kolaborasi jauh lebih bermakna,” pungkasnya.

Ia juga menyampaikan harapannya kepada para senior dan tokoh yang lebih dahulu berkiprah di ruang publik agar memberikan contoh yang mendidik bagi generasi muda.
“Kami berharap para senior dapat memberikan kami, adik-adik ini, ilmu, pengetahuan, dan pembelajaran yang membangun — bukan justru memberikan contoh yang keliru,” tegas Andriko.

Dalam pandangan Andriko, BEM Unilaki berkomitmen menjadi wadah intelektual muda yang kritis, objektif, dan solutif. Ia menegaskan, mahasiswa akan terus berperan aktif mengawal arah kebijakan publik agar berpihak pada kepentingan rakyat, tanpa kehilangan sikap independen dan semangat progresif yang menjadi ciri utama gerakan mahasiswa.(*)