Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6615 Lihat semua

Puncak pendakian spiritual bisa dicapai dengan memperoleh tingkat kesadaran diri yang lebih tinggi dari apa yang telah dimiliki sebelumnya. Lalu ada peningkatan getaran dengan yang lebih besar dari diri sendiri. Mulai dari getaran sinyal dengan para leluhur, makhluk ciptaan Tuhan yang lain – jin hingga malaikat – dan Tuhan sendiri yang ditandai oleh petunjuk serta arahan untuk melakukan sesuatu yang akan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.

Capaian pendakian spirirual dari pengakuan para pelaku spiritual adanya kenyamanan dan ketenangan – seperti dapat dirasakan secara nyata oleh seorang pecinta alam yang berhasil mencapai puncak gunung dapat melihat bentangan pemandangan yang sungguh menakjubkan, semua pendaki umumnya akan memperoleh pengalaman bathin yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Itulah sebabnya, pendakian dari gunung yang satu kepada gunung yang lain terus dilakukan dengan keriangan hati yang disekap oleh rasa kebahagiaan – kehangatan – kendati realitas dari suhu di puncak gunung tersebut sangat dingin atau bahkan berada pada titik beku yang ekstrem

Dalam moment seperti itulah vibrasi dan frekuensi spiritual dapat dirasakan jadi meniggi ke langit, kendati pada dimensi yang lain ada kesadaran berapi kecilnya diri kita dibanding dengan sesuatu Yang Maha Besar sebagai memiliki jagat raya ini.

Begitulah esensi dari pendakian spiritual – bukan karena pencapaian dapat sampai ke puncak, tetapi tentang ketangguhan dan

kegigihan hati dalam titik kesadaran yang terjauh, sehingga dapat merentangkan frekuensi dari bathin yang terdalam bisa mencapai jarak terdekat dari Ilahi Rabbi.

Perjumpaan terhadap yang jauh lebih besar dari diri sendiri adalah klimaks dari kesadaran, sehingga keyakinan bahwa Tuhan itu sendiri sesungguhnya ada dan bersemayam di dalam setiap diri manusia. Dan makna dari manunggaling kawula lain gusti itu tampak dalam kemaha kuasaan-Nya terhadap setiap denyut nadi dan nafas manusia serta makhluk hidup lainnya yang diciptakan dengan sempurna serta keunggulan dan keistimewaan paling mulia dari makhluk lainnya bagi manusia.

Karena itu, pengembaraan spiritual tidak berujung, karena akan berakhir dengan sendiri ketika sampai ke liang kubur. Lantas bagaimana dengan surga yang diharap dapat menjadi tempat persemayaman ruh kita agar tak gentayangan mengganggu kehidupan di dunia yang harus harmonis menyenangkan bagi semua makhluk yang pantas menikmati kebahagiaan ?

Agaknya, begitulah kalkukasi dari apa yang telah dilakukan semasa hidup di dunia untuk menjadi bekal yang cukup untuk hifup di alam yang lain. Demikianlah – kalkukasi spiritual yang patut dirinci – sesungguhnya apa saja yang telah kita lakukan di dunia tadi.

( Jacob Ereste )
Banten, 27 Maret 2026