KONAWE, FAKTA1.COM — Pagi itu, ratusan dump truk berbaris kaku di jantung Kabupaten Konawe. Mesin dimatikan. Bak kosong. Para sopir turun ke jalan, membawa satu hal yang sama: kecemasan. Senin (2/2/2026).
Deru mesin dump truk yang biasanya memecah sunyi kawasan tambang, hari itu berganti teriakan keputusasaan. Ratusan sopir dump truk dan pekerja pengangkut pasir menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor DPRD Konawe.
Aksi kemudian bergeser ke sisi kanan, tepat di depan Kantor Bupati Konawe, hingga berlanjut ke Mapolres Konawe.
Mereka tidak sekadar berunjuk rasa.
Mereka datang membawa pesan yang lebih mendasar: hidup mereka sedang dihentikan secara paksa.
“Kami tidak menolak aturan. Tapi jangan tutup kami tanpa solusi,” ujar seorang sopir, pelan namun tegas.
Para sopir dan pekerja tambang galian C itu mengaku kehilangan mata pencaharian sejak penutupan sejumlah lokasi tambang. Aktivitas yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka terhenti mendadak, tanpa kejelasan arah.
Mereka datang bukan membawa senjata, melainkan kecemasan. “Kami bukan penjahat. Kami cuma mau bekerja. Kalau tambang ditutup, anak-anak kami makan apa?” teriak seorang sopir dari atas bak truk, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh massa.
Penutupan sejumlah lokasi galian C selama lebih dari sepekan terakhir menjadi pemicu kemarahan sekaligus kepanikan. Truk-truk yang biasanya hilir mudik kini lebih sering terparkir diam tanpa muatan, tanpa pemasukan.
Bagi para sopir, satu hari tanpa angkutan berarti utang bertambah, cicilan menumpuk, dan kebutuhan rumah tangga terbengkalai.
Darwis, salah satu sopir yang ikut aksi, mengaku tak tahu lagi harus berbuat apa.
“Kami hidup dari pasir. Bukan dari kantor, bukan dari proyek besar. Sekarang semua dihentikan, tapi solusi tidak ada,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dampak penutupan tambang tidak berhenti pada para sopir. Buruh muat, pekerja bangunan, hingga proyek infrastruktur ikut terpukul. Material pasir menjadi langka, pekerjaan terhenti, dan roda ekonomi lokal melambat.
Asman, pekerja jaringan irigasi di Konawe, menyebut beberapa proyek terpaksa berhenti total.
“Pasir tidak ada. Kami mau kerja pakai apa?” katanya singkat namun tegas.
Menuntut Solusi, Bukan Sekadar Penertiban
Para demonstran meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum tidak hanya melakukan penutupan tambang, tetapi juga membuka ruang dialog dan menghadirkan solusi yang adil.
Mereka mengaku siap mengikuti aturan, selama masih diberi kesempatan untuk bekerja.
“Kalau memang ada pelanggaran, benahi. Tapi jangan matikan kami pelan-pelan,” seru salah satu sopir yang ikut dalam aksi di depan Kantor Bupati Konawe.
Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Konawe maupun pihak kepolisian terkait tuntutan massa. Aparat terlihat berjaga di sejumlah titik, sementara para sopir satu per satu meninggalkan lokasi dengan wajah lelah pulang tanpa kepastian.
Di balik truk-truk yang kembali kosong, tersisa satu kenyataan pahit: ketika tambang ditutup, yang pertama kali ambruk bukan hanya aktivitas, tetapi juga harapan.














