Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6703 Lihat semua

London – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikabarkan telah memasang bidikan pada pangkalan militer Inggris pasca pemerintah di London mengizinkan Amerika Serikat menggunakan fasilitas pertahanannya untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Langkah Inggris yang dinilai telah melampaui batas ini memicu respons keras dari Teheran, yang kini mengancam akan melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap pangkalan-pangkalan strategis Kerajaan Inggris.

Duta Besar Iran untuk London, Seyed Ali Mousavi, menyampaikan peringatan keras bahwa “semua opsi terbuka” untuk membela diri, dan pangkalan militer Inggris berpotensi menjadi sasaran jika konflik terus bereskalasi.

“Ini adalah masalah yang sangat penting yang sedang kami pertimbangkan,” tegas Mousavi dalam wawancaranya dengan Times Radio, mengindikasikan bahwa sektor militer Iran akan memutuskan langkah balasan yang setimpal.

Kekhawatiran ini mengemuka setelah AS dilaporkan menggunakan Pangkalan RAF Fairford di Gloucestershire dan Pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia sebagai landasan pacu bagi pesawat pengebom B-2 Spirit yang meluncurkan rudal ke fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Pegunungan Zagros.

Penggunaan pangkalan Inggris ini dianggap oleh Teheran sebagai “partisipasi dalam agresi”, sehingga menjadikan Kerajaan Inggris sebagai target yang sah dalam konflik bersenjata di Timur Tengah.

Peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) datang setelah sebelumnya Iran telah mendemonstrasikan kemampuannya dengan menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke arah Pangkalan Diego Garcia pada Maret lalu.

Meskipun serangan tersebut gagal mencapai target karena satu rudal jatuh dan satu lagi berhasil dicegat oleh sistem pertahanan AS, aksi ini dinilai sebagai demonstrasi kekuatan yang jelas bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menjangkau aset-aset strategis Inggris yang berada ribuan kilometer dari perbatasannya.

Serangan rudal ke Diego Garcia

ini disebut-sebut sebagai upaya Iran untuk memperluas radius pertahanan dan “zona ketakutan”, dengan para analis militer memperingatkan bahwa roket Teheran kini mampu mencapai Eropa.

Ancaman ini bukan sekadar gertakan; dilaporkan bahwa IRGC saat ini sedang menyusun daftar target yang mencakup instalasi militer serta infrastruktur logistik Inggris yang terkait dengan upaya perang AS.

“Bergantung pada aktivitas kalian dan keputusan Inggris mengenai masalah ini, setiap opsi harus dipertimbangkan,” ujar Dubes Mousavi, menekankan bahwa faktor penentu eskalasi ada di tangan pemerintah Kerajaan Inggris sendiri.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Inggris sempat menyebut serangan Iran terhadap Diego Garcia sebagai “tindakan sembrono” dan ancaman langsung bagi kepentingan serta sekutu Inggris.

Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa negaranya telah memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam “operasi defensif terbatas” guna melindungi kepentingan bersama di kawasan.

Perdana Menteri Keir Starmer pun berada dalam tekanan besar, baik dari Washington yang mendesaknya untuk lebih terlibat, maupun dari Tehran yang memperingatkan akan konsekuensi fatal jika Inggris terus memfasilitasi serangan AS.

Para ahli keamanan mewanti-wanti bahwa perang melawan Iran saat ini tidak lagi bersifat konvensional, namun telah merambah ke “zona abu-abu”, yang berarti Inggris bisa terkena dampak serangan siber, disinformasi, atau serangan terhadap infrastruktur sipil yang dikendalikan oleh proxy Iran.

Dengan ketegangan yang semakin meningkat, langkah pemerintah Inggris selanjutnya akan sangat menentukan apakah ancaman “pemusnahan total” oleh IRGC terhadap pangkalan militer Inggris akan benar-benar terwujud dalam waktu dekat.(*)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.