
FAKTA1.COM, Jakarta (5/2) Pemerintah berkomitmen menghentikan impor beras, jagung pakan dan gula pada 2025. DPP LDII menilai keputusan tersebut sangat tepat, karena bertujuan mewujudkan kemandirian pangan.
Ketua DPP LDII, Rubiyo mengungkapkan, Indonesia memiliki sumberdaya alam dan tenaga kerja yang sangat memadai, tapi perlu pengelolaan yang baik termasuk mengatur konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian, “Sehingga sangat memungkinkan untuk tidak impor beras misalnya. Meskipun, saat ini terjadi pula konversi lahan sawah pertanian,” ujar Rubiyo mengingatkan.
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut melanjutkan, hal tersebut membuat lahan pertanian yang potensial terus berkurang. “Padahal kebutuhan pangan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk,” katanya.
- Wajo Bersinar, Enrekang Mengejutkan, Soppeng Justru Terpeleset di Porsenijar Sulsel 2026
- Sidrap Sapu Bersih Porsenijar Sulsel 2026, Tuan Rumah Sekaligus Juara Umum
- Kantor Pusat PLN Disegel Massa, Ultimatum 3×24 Jam untuk Direksi: Jika Listrik Masih Byarpet, Presiden Diminta Turun Tangan
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Untuk itu, ia menyarankan, menambah luas lahan pertanian. “Baik untuk komoditas padi ataupun komoditas lainnya seperti jagung pakan dan tebu,” pungkas Rubiyo.
Rubiyo melihat, saat ini pemerintah terus melakukan intensifikasi pertanian. “Bersamaan dengan pengembangan inovasi teknologi. Seperti menanam varietas unggul baru yang adaptif serta mampu berproduksi tinggi, dan tahan terhadap hama dan penyakit tanaman,” tuturnya.
Selanjutnya, telah dilakukan pengembangan teknologi pemupukan serta pemanfaatan alat
Terkait dengan infrasturktur mendukung kemandirian pangan, Rubiyo mengatakan, bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan, harus menyesuaikan dengan kondisi dan agroekosistem. “Termasuk teknologi yang diintroduksikan, seperti varietas tanaman dan alat mesin pertanian untuk mendukung kapasitas produksi dan mutu hasil pertanian yang diharapkan,” jelasnya.
Langkah selanjutnya, Rubiyo menyarankan untuk melakukan diversifikasi sumber pangan. “Tingkatkan potensi pangan lokal di daerah. Misalnya NTT untuk jagung atau sorgum, kemudian Papua dengan umbi dan sagu,” imbuhnya.
Rubiyo mengungkapkan, LDII berkomitmen mendukung program pemerintah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan. “Salah satunya, kami mengembangkan sorgum dengan membangun kebun benih yang bermutu untuk dikembangkan,” katanya.
- Wajo Bersinar, Enrekang Mengejutkan, Soppeng Justru Terpeleset di Porsenijar Sulsel 2026
- Sidrap Sapu Bersih Porsenijar Sulsel 2026, Tuan Rumah Sekaligus Juara Umum
- Kantor Pusat PLN Disegel Massa, Ultimatum 3×24 Jam untuk Direksi: Jika Listrik Masih Byarpet, Presiden Diminta Turun Tangan
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Rubiyo merinci, kebun benih tersebut seluas 1 hektar. “Jika menghasilkan 20 ton benih, maka akan mampu memenuhi kebutuhan benih untuk 400 hektar. Lokasinya di Blora, Jawa Tengah,” tutup Rubiyo.








Tinggalkan Balasan