Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6632 Lihat semua

Sidrap, Fakta1.com — Pelantikan JMSI di Monumen Ganggawa tak berhenti sebagai agenda seremonial. Syaharuddin Alrif justru memanfaatkannya sebagai panggung terbuka untuk membeberkan agenda besar yang sedang ia dorong: infrastruktur jalan dan kesejahteraan masyarakat.

Angkanya mencolok—554 kilometer jalan rusak di Kabupaten Sidenreng Rappang. Sebuah beban lama yang kini coba dipercepat penyelesaiannya. Dengan estimasi Rp3 miliar per kilometer, total kebutuhan anggaran menyentuh sekitar Rp1,5 triliun.

Bagi Syaharuddin, ini bukan proyek satu tahun. Ia memasang horizon hingga 2029, dengan strategi bertahap. Tahun 2026 disebut sebagai titik balik, ketika fokus pembangunan mulai bergeser dari sektor pertanian menuju infrastruktur jalan dan penerangan melalui program “Sidrap Bercahaya”.

“Tidak bisa sekaligus, tapi harus dipastikan berjalan,” tegasnya.

Pemerintah daerah kini mengandalkan kombinasi skema: program Infrastruktur Jalan Daerah, bantuan keuangan provinsi, hingga dukungan pemerintah pusat. Bahkan, sejumlah ruas telah diusulkan untuk dikerjakan oleh BUMN setelah melalui tahapan survei.

Prioritasnya jelas—akses vital masyarakat. Jalur penghubung antar kecamatan, kawasan pertanian, hingga pusat aktivitas ekonomi menjadi titik awal pembenahan.

Nada kolaboratif itu juga tercermin dalam gerakan “Sidrap Bersih, Sidrap Berkah”. Kerja bakti rutin setiap Jumat yang

melibatkan masyarakat menjadi pendekatan sederhana, namun konsisten, dalam membangun kesadaran kolektif.

Di sisi lain, isu yang tak kalah krusial ikut diangkat: tenaga PPPK.

Sebanyak 1.958 PPPK paruh waktu masih menunggu kepastian, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp98 miliar. Syaharuddin memastikan proses pelantikan akan dilakukan, bersamaan dengan penyelesaian PPPK penuh waktu.

Baginya, ini bukan sekadar administrasi kepegawaian, melainkan menyangkut kualitas layanan publik.

“Saya sudah tuntaskan kewajiban. Sekarang giliran mereka bekerja maksimal untuk masyarakat,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan fiskal, muncul pendekatan tak biasa: “Biro Preneur”. ASN didorong memiliki usaha sampingan tanpa meninggalkan tugas utama. Bertani, beternak, hingga berkebun menjadi opsi untuk menambah penghasilan.

Sebuah gagasan yang ingin memutus ketergantungan tunggal pada gaji, sekaligus menjaga produktivitas.

Sebuah gagasan yang ingin memutus ketergantungan tunggal pada gaji, sekaligus menjaga produktivitas.

Di Monumen Ganggawa, arah itu dipaparkan terang.

Soal jalan yang harus dibenahi.
Soal pegawai yang harus disejahterakan.
Dan soal sistem yang perlahan ingin diubah—dari rutinitas menjadi gerak.(***)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.