Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6745 Lihat semua

Oleh : Fery Sirajuddin

Opini– Pencitraan itu adalah keinginan dari penampilan yang berlebih dari kapasitas diri yang sesungguhnya dimiliki. Karena itu pula, tidak otentik sebagai kepribadiandiri yang sejati.

Oleh karena itu orang yang gemar membangun pencitraan diri, dapat dipastikan suka memanipulasi untuk semua hal. Mulai dari cinta, kesetiaan, komitmen hingga janji setia untuk mematuhi ikatan perjanjian, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Apalagi kalau hanya dalam ucapan semata yang sesungguhnya adalah bualan semata.

Pencitraan diri itu bisa ditandai kegemaran memasang gelar atau julukan palsu yang tidak pernah diberikan oleh insansi atau pihak lain yang kompeten untuk menyematkan gelar atau julukan tertentu itu. Karenanya, fenomena ijazah palsu, gelar palsu, kekuasaan palsu – yang mengaku sebagai pejabat dari instansi tertentu – sampai kekayaan palsu seperti penampilan mewah dari rumah sewaan, kendaraan pinjaman atau kredit yang dipaksakan di luar kemampuan, sehingga banyak yang ditarik kembali oleh pihak leasing, adalah fenomena pencitraan yang semakin mewabah dalam budaya masyarakat urban yang menjadi korban dari pola hidup konsumtif.

Penjajahan yang dilakukan para pedagang serupa ini merupakan bagian dari dokmatik kapitalisme yang mewabah di seluruh dunia, lantaran tersingkirnya sosialisme yang sesungguhnya menjadi bagian dari nafas filsafat kehidupan bangsa Timur – khususnya Indonesia yang belum juga menemukan bentuk dari pilihan hidup yang mantap dan terarah. Bahwa hidup ini sesungguhnya tidak harus dimuati oleh beban material semata, karena harus diimbangi oleh bobot spiritual sebagai penyeimbang atau pengendali diri agar tidak materialustik dan hura-hura menikmati kegembiraan yang semu, palsu.

Jadi, ijazah palsu, janji palsu penampilan palsu yang dibungkus pencitraan sungguh berbahaya, bukan saja untuk orang lain, tapi juga bisa lebih mencelakai diri sendiri.

Oleh karena itu, pilihan untuk meniti alur spiritual dari perjalanan hidup ini adalah pilihan jenial agar tidak terjebak dan terperosok dalam kubangan materialisme yang jauh dari sifat dan sikap spiritualisme semacam ideologi alternatif baru untuk mengatasi prilaku mabuk kepayang terhadap harta dan kekayaan yang terlanjur membius, seakan-akan dapat menjadi garansi kebahagiaan di dunia, apalagi bila percaya setelah hidup di dunia kelak akan berada di akherat yang kekal.

Pencitraan yang berlebihan pun acap bisa dilihat dalam melakukan ibadhah agak berlebihan dan norak yang cenderung untuk dipertontonkan kepada banyak orang agar memperoleh kesan religius dan sebagai sosok yang taat menunaikan tuntutan dan ajaran agama. Padahal realisasi dari ibadhah yang harus diamalkan itulah yang patut dirasakan oleh orang lain manfaat dan mudharatnya.

Jadi bukan sensasi dari pelaksanaan ibadhah yang lebih bersifat pribadi itu, karena tujuan utama dari ibadhah atau sholat itu adalah untuk memperbaiki cara hidup hingga pilihan sikap dalam bertindak demi dan untuk kebaikan diri sendiri yang dapat dinikmati juga oleh orang lain.

Artinya, dari pelaksanaan ibadhah hingga sholat yang dilakukan itu, perlu ditilik – dievakuasi – manfaatnya bukan hanya untuk diri pribadi. Sebab amal ibadhah manusia yang dapat memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain adalah wujud ibadhah yang terbaik untuk dilakukan, tanpa perlu sensasi dan perhatian dari pihak msnapun. Karena ibadah maupun sholat itu sesungguhnya tidak baik untuk dijadikan bagian dari pencitraan diri. Apalagi, bila sholat dan ibadhah itu tidak bisa dijadikan upaya untuk memperbaiki karakter, sikap, perilaku hingga perangai diri yang selalu merasa lebih unggul dan lebih baik dari orang lain.

Budaya pencitraan diri yang telah merusak dan merasuk dalam wilayah agama – seperti umroh berulang kali atau ziarah spuritual ke berbagai tempat yang tak lebih dari kunjungan wisata semata itu – terkesan telah menjadi trend atau model prilaku snob akibat tekanan psikologis yang lebih bersifat materialistis, bukan psikologis spiritualistis.

Oleh

karena itu, untuk meredakan sikap dan sifat buruk yang tamak dan rakus – termasuk membangun citra diri yang palsu – bisa mulai diredakan oleh kesadaran dan pemahaman spiritual yang bisa membimbing jiwa dan bathin serta kebekuan hati untuk lebih bersikap ugahari atau rendah hati. Sebab semua bentuk pencitraan yang palsu itu – bukan hanya sikap penipu – tapi lebih didorong oleh sikap dan sifat yang sombong. Serta bodoh

Gemini berkata
Tentu, ini adalah versi yang telah dirapikan agar lebih mengalir, profesional, dan bebas dari kesalahan tik (typo), namun tetap mempertahankan esensi filosofis dari tulisan Anda.

Pencitraan Palsu: Manifestasi Kesombongan yang Berujung pada Kebodohan Diri
Pencitraan adalah keinginan untuk menampilkan diri secara berlebihan, melampaui kapasitas diri yang sesungguhnya. Oleh karena itu, pencitraan bersifat tidak otentik dan gagal mencerminkan kepribadian sejati.

Seseorang yang gemar membangun pencitraan diri cenderung memanipulasi segala hal; mulai dari cinta, kesetiaan, dan komitmen, hingga janji untuk mematuhi kesepakatan—baik yang tertulis maupun tidak. Terlebih jika hal tersebut hanya berupa ucapan semata yang sejatinya hanyalah bualan belaka.

Pencitraan diri dapat ditandai dengan kegemaran menyematkan gelar atau julukan palsu yang tidak pernah diberikan oleh instansi atau pihak kompeten. Fenomena ijazah palsu, kekuasaan semu (mengaku pejabat), hingga kekayaan fiktif—seperti rumah sewaan atau kendaraan hasil kredit yang dipaksakan di luar kemampuan hingga akhirnya ditarik pihak leasing—adalah potret pencitraan yang mewabah dalam budaya masyarakat urban yang terjebak pola hidup konsumtif.

Dominasi gaya hidup seperti ini merupakan bagian dari dogmatisme kapitalisme yang mewabah secara global, seiring tersisihnya nilai-nilai sosialisme yang sebenarnya menjadi napas filsafat kehidupan bangsa Timur, khususnya Indonesia. Bangsa ini seolah belum menemukan bentuk pilihan hidup yang mantap dan terarah. Padahal, hidup sejatinya tidak boleh hanya dipenuhi beban material, melainkan harus diseimbangkan dengan bobot spiritual sebagai pengendali diri agar tidak terjebak dalam materialisme dan hura-hura semu.

Oleh karena itu, ijazah palsu, janji palsu, dan penampilan palsu yang dibungkus pencitraan sangatlah berbahaya. Hal tersebut tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga mencelakai diri sendiri.

Memilih untuk meniti alur spiritual dalam perjalanan hidup adalah langkah cerdas agar tidak terperosok ke dalam kubangan materialisme. Spiritualitas hadir sebagai ideologi alternatif untuk mengatasi “mabuk” harta yang telah membius masyarakat, seolah kekayaan adalah penjamin kebahagiaan di dunia, bahkan di akhirat kelak.

Pencitraan yang berlebihan juga sering terlihat dalam praktik ibadah yang cenderung dipertontonkan demi mendapatkan kesan religius atau citra sosok yang taat. Padahal, esensi ibadah yang sesungguhnya adalah manfaat yang dirasakan oleh orang lain, bukan sensasi dari pelaksanaannya. Tujuan utama ibadah, seperti salat, adalah untuk memperbaiki cara hidup dan pilihan sikap demi kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Artinya, setiap ibadah yang dijalankan perlu dievaluasi manfaatnya bagi sesama. Amal ibadah yang memberi manfaat luas adalah wujud pengabdian terbaik, tanpa perlu sensasi atau haus perhatian. Ibadah tidak sepatutnya dijadikan komoditas pencitraan diri, apalagi jika ia gagal memperbaiki karakter dan perilaku seseorang yang selalu merasa lebih unggul dari orang lain.

Budaya pencitraan telah merasuk ke wilayah agama—seperti umrah berulang kali atau ziarah spiritual yang tak lebih dari sekadar kunjungan wisata. Hal ini terkesan menjadi tren perilaku snob akibat tekanan psikologis materialistis, bukan spiritualistis.

Untuk meredam sifat tamak dan rakus—termasuk keinginan membangun citra palsu—diperlukan kesadaran spiritual yang mampu membimbing jiwa dan melembutkan hati agar lebih bersikap ugahari (sederhana dan bersahaja). Sebab, segala bentuk pencitraan palsu bukan sekadar tindakan menipu, melainkan didorong oleh kesombongan yang berujung pada kebodohan.

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.