Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6755 Lihat semua

KONAWE, FAKTA1.COM — Pagi itu, tanah di Desa Sonai, Kecamatan Puriala, tidak sekadar dibuka. Ia menjadi panggung dari sebuah harapan besar program Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas 1.400 hektare yang digadang-gadang mampu memperkuat ketahanan pangan, Kamis, 9 April 2026.

Dalam semangat Konawe Bersahaja, Kabupaten Konawe ditunjuk sebagai salah satu dari 16 provinsi penerima program strategis nasional ini. Di balik angka ribuan hektare, tersimpan ambisi besar negara: memperluas lahan tanam, meningkatkan produksi beras, dan memastikan dapur rakyat tetap mengepul.

Sejumlah pejabat hadir, mulai dari unsur Forkopimda hingga pimpinan OPD terkait. Nama-nama besar dan jabatan tinggi berkumpul dalam satu agenda mengawal lahirnya sawah baru. Namun di balik seremoni itu, publik paham, ujian sesungguhnya baru saja dimulai.

Program ini terhubung langsung dengan gerakan tanam padi serentak nasional seluas 10.000 hektare yang dipusatkan di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dan dihadiri Wakil Menteri Pertanian RI. Konawe pun masuk dalam lingkaran penting upaya besar tersebut.

Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE., M.Si, dalam sambutannya menegaskan peran strategis daerahnya sebagai salah satu penyangga pangan. Ia menyebut Konawe bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menyuplai daerah lain, bahkan saat krisis terjadi.

Namun di tengah optimisme itu, ia melontarkan peringatan yang tak bisa diabaikan.

“Pengawasan harus diperketat. Jangan sampai bantuan yang diberikan negara justru tidak dimanfaatkan oleh petani yang berhak,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa semangat Konawe Bersahaja

tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus tercermin dalam kerja nyata bersih, jujur, dan berpihak pada petani.

Pemerintah daerah memastikan komitmennya. Infrastruktur akan diperkuat, lahan disiapkan, dan petani didampingi. Teknologi modern seperti drone pertanian mulai diperkenalkan, menandai langkah menuju pertanian yang lebih efisien dan maju.

Namun di lapangan, cerita berjalan dengan ritmenya sendiri. Bagi petani, program ini bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan soal hidup dan masa depan. Mereka berharap sawah yang dicetak benar-benar menghasilkan, bukan sekadar jadi simbol keberhasilan di atas kertas.

Peran penyuluh pertanian pun menjadi krusial. Di tangan merekalah program ini diterjemahkan dari kebijakan menjadi praktik, dari rencana menjadi panen.
Pelibatan kelompok tani dan berbagai pihak disebut sebagai kunci agar program ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, tetapi kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan negara.

Di Desa Sonai, suara alat berat membuka lahan berpadu dengan harapan yang tumbuh perlahan. Di sanalah drama itu berlangsung antara janji yang diucapkan dan kenyataan yang akan diuji waktu.

Jika berhasil, Konawe Bersahaja akan semakin kokoh sebagai lumbung pangan Sulawesi Tenggara dan bagian penting dari ketahanan pangan nasional. Namun jika tidak, 1.400 hektare ini akan menjadi pengingat keras bahwa membangun sawah jauh lebih mudah daripada menjaga komitmen.(*)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.