
JAKARTA, FAKTA1.COM – Di tengah misi mulia mengentaskan stunting, Badan Gizi Nasional (BGN) justru diguncang isu megakorupsi yang menggetarkan publik.
Lembaga yang baru seumur jagung ini diduga menjadi ajang “pesta pora” anggaran melalui proyek pengadaan laptop dan pembangunan jaringan internet yang sarat kejanggalan.
Nama Kepala BGN, Dadan Hindayana, kini berada di pusaran kritik tajam setelah informasi valid mengenai aliran dana fantastis ke kantong-kantong tak berhak mulai terendus media.
Modus Operandi: Pecah Anggaran & “Honor” Fantastis
Berdasarkan data internal, proyek ini menggunakan pagu anggaran sebesar Rp1,2 triliun. Namun, demi menghindari radar pengawasan DPR RI dan publik, anggaran tersebut dipecah secara cerdik:
Pembangunan Jaringan: Rp500 Miliar.
Pengadaan Laptop: Rp300 Miliar.
Total Eksekusi: Rp800 Miliar.
Kejanggalan Fatal:
Dugaan kerugian negara paling mencolok ditemukan pada proyek jaringan. Biaya riil pengerjaan diperkirakan hanya Rp100 miliar, namun ada alokasi “honor pengerjaan” sebesar Rp400 miliar.
Angka ini dianggap tidak masuk akal dalam struktur birokrasi mana pun dan diduga kuat merupakan markup terselubung.
Peruri “Ngerakit” Laptop? Teka-Teki Pelaksana Proyek
Publik dibuat heran dengan penunjukan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) sebagai pelaksana.
“Bagaimana mungkin perusahaan yang core bisnisnya mencetak uang, tiba-tiba menjadi kontraktor IT dan pengadaan laptop? Mengapa bukan raksasa teknologi seperti Telkom atau Indosat?”
Muncul dugaan bahwa isu sepeda motor spesifikasi tinggi yang belakangan ramai di publik hanyalah smoke screen (pengalihan isu). Fokus rakyat dialihkan pada motor, sementara korupsi “kerah putih” di proyek laptop yang jauh lebih brutal terus berjalan di bawah radar.
Kecaman Keras Wilson Lalengke: “Tangkap Kepala BGN!”
Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, tidak menahan diri. Alumnus PPRA-48 Lemhannas RI ini menyebut skandal ini sebagai bentuk pengkhianatan telanjang terhadap rakyat.
“Ini adalah perampokan uang rakyat yang memuakkan! Badan Gizi Nasional seharusnya mengurus perut rakyat yang lapar, bukan mengenyangkan perut pejabat lewat proyek laptop siluman. Saya mendesak KPK segera menangkap Dadan Hindayana dan jajaran direksi Peruri yang terlibat!” tegas Wilson, Sabtu (18/04/2026).
Wilson menambahkan bahwa kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp500 miliar adalah sabotase terhadap program gizi nasional. Ia menuntut KPK segera menyita aset para pelaku dan menyeret mereka ke penjara.
Bedah Filosofis: Runtuhnya Etika Publik
Skandal ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan cermin runtuhnya moralitas kekuasaan:
Filsuf Perspektif Terhadap Kasus BGN
Thomas Hobbes Negara berubah menjadi Leviathan (monster) yang memangsa rakyatnya sendiri akibat keserakahan tanpa pengawasan.
Immanuel Kant Pelanggaran Categorical Imperative: Jika mencuri demi kelompok dilegalkan, maka pondasi negara akan hancur total.
John Locke Pemerintah kehilangan legitimasi moral karena mengkhianati trust (kepercayaan) rakyat melalui korupsi.
Darurat Integritas: Negara Tidak Boleh Kalah!
Jika korupsi di Badan Gizi Nasional ini tidak diusut tuntas, setiap butir makanan bergizi yang sampai ke tangan rakyat akan terasa pahit karena bercampur dengan air mata pengkhianatan.
Publik kini menunggu keberanian KPK: Apakah berani menyentuh “bandit-bandit berdasi” ini, atau membiarkan Leviathan Predator terus berpesta di atas penderitaan rakyat?
#TangkapKepalaBGN #SkandalLaptopBGN #KorupsiBadanGizi #AuditPeruri
(TIM/Red)








Tinggalkan Balasan