
Menakar Keikhlasan di Tengah Himpitan Ekonomi: Refleksi Filosofi Saromase
Oleh: Fery Sirajuddin
OPINI- Di tanah Nene Mallomo, kata Saromase bergema bukan sekadar sebagai slogan, melainkan sebuah ujian ketulusan. Bekerja ikhlas tanpa mengharap imbalan adalah puncak tertinggi dari pengabdian seorang hamba kepada sesamanya.
Namun, sebuah tanya besar muncul di tengah zaman yang semakin mencekik: Bagaimana mungkin kita bicara tentang keikhlasan yang tak terbatas, sementara kebutuhan hidup kita memiliki batas yang nyata?
Menyikapi paradoks ini, berikut adalah tiga pilar perenungan untuk menyeimbangkan antara idealisme spiritual dan realitas ekonomi:
- Saromase sebagai Fondasi, Bukan Penjara
Ikhlas bukan berarti membiarkan diri terjebak dalam kekurangan. Saromase adalah tentang mentalitas.
Profesionalisme: Kita tetap berhak atas hak-hak materi atas pekerjaan kita.
Nilai Ibadah: Saromase menjaga agar hati tidak menjadi “budak” uang. Dengan filosofi ini, setiap tetes keringat tidak hanya bernilai rupiah, tetapi bertransformasi menjadi nilai ibadah.
- Keseimbangan Tangan di Atas dan Kaki di Bumi
Mustahil memenuhi kebutuhan hidup hanya dengan mengandalkan filosofi tanpa strategi. Kita tetap harus mengejar penghidupan dengan gigih, namun dengan catatan:
Biarlah Saromase menjadi warna dalam setiap profesi.
Dengan prinsip ini, rezeki yang sedikit akan terasa berkah, dan rezeki yang melimpah tidak akan membuat kita lupa daratan.
- Investasi Langit yang Tak Terduga
Bumi Sidrap menyimpan banyak kisah tentang mereka yang mendahulukan kemanusiaan, lalu Tuhan mencukupkan mereka dari jalan yang tidak disangka-sangka. Saromase adalah bentuk “investasi langit” yang hasilnya mungkin tidak selalu berupa uang tunai seketika, namun manifestasinya hadir dalam bentuk kecukupan yang berkelanjutan.
“Saromase bukanlah tentang bekerja secara gratis, melainkan tentang bekerja dengan hati yang merdeka. Karena tangan yang bekerja dengan ikhlas akan selalu dijaga oleh Sang Pemberi Rezeki agar tetap bisa memberi makan keluarganya.”
Kesimpulan
Mari kita jadikan tagline ini sebagai pengingat untuk tidak kehilangan sisi kemanusiaan kita, sembari tetap berjuang keras menaklukkan kerasnya tuntutan ekonomi. Bekerja dengan hati, berjuang dengan logika, dan berserah dengan doa.
Sidrap 28 April 2026
Penulis : Fery Sirajuddin








Tinggalkan Balasan