
FAKTA1.COM, SIDRAP, 30 April 2026 – Kontras tajam terjadi dalam penanganan fenomena ikan sapu-sapu di Indonesia. Saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjibaku membasmi puluhan ton ikan sapu-sapu karena dianggap hama invasif berbahaya, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, justru mengambil langkah “out of the box” dengan mengubah ancaman tersebut menjadi peluang ekonomi dan ketahanan pangan.
Inovasi Pakan Ternak: Solusi Murah bagi Peternak
Berawal dari keresahan akan ekosistem Danau Sidenreng yang terganggu, Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif meluncurkan program pemanfaatan ikan sapu-sapu dan eceng gondok sebagai bahan baku pakan bebek.
Ketua Kelompok Ternak Bebek, Muhammad Abu Rizal, mengungkapkan bahwa program yang dimulai sejak November lalu ini telah dirasakan manfaatnya oleh sekitar 30 peternak di pesisir danau.
“Dulu ikan ini dianggap sama sekali tidak ada manfaatnya. Sekarang, alhamdulillah sangat membantu mengurangi biaya pakan,” ujar Rizal.
Meskipun pengolahannya masih menggunakan alat penggiling daging sederhana, efektivitasnya terbukti nyata. Ikan digiling mentah atau direbus terlebih dahulu sebelum dicampur sebagai nutrisi tambahan bagi bebek bantuan dari Pemkab Sidrap.
Beda Sidrap, Beda Jakarta
Perbedaan nasib ikan sapu-sapu di kedua wilayah ini didasari oleh kondisi kualitas air. Di Jakarta, ikan ini dilarang keras untuk dikonsumsi karena tingginya kandungan logam berat dan residu polutan. Hingga 23 April 2026, Dinas KPKP DKI Jakarta mencatat telah memusnahkan 10,189 ton ikan
Sebaliknya, di Danau Sidenreng, ikan sapu-sapu diklaim masih dalam kategori aman.
- Minim Industri: Lokasi danau yang jauh dari kawasan industri meminimalisir risiko kontaminasi logam berat.
- Konsumsi Terbatas: Warga lokal bahkan mengonsumsi ikan ini secara terbatas. “Dagingnya ada, tapi memang lebih banyak tulangnya,” jelas Bupati Syaharuddin Alrif.
Menuju Skala Industri: Butuh Dukungan Modal
Meski sukses menjadi solusi bagi peternak, program ini masih menyimpan tantangan besar. Saat ini, nelayan lokal belum merasakan dampak ekonomi langsung karena ikan sapu-sapu belum memiliki harga jual di pasar.
Bupati Syaharuddin menekankan bahwa langkah ini adalah strategi ganda: Menyelamatkan populasi ikan asli (seperti Nila dan Patin) dari serangan predator sapu-sapu, sekaligus memberdayakan petani. Namun, untuk meningkatkan skala produksi pakan menjadi industri yang mapan, Sidrap membutuhkan:
- Investasi Modal: Terutama untuk pengadaan mesin penggiling kapasitas besar.
- Peralatan Memadai: Agar pengolahan lebih higienis dan tahan lama.
Tentang Program Ketahanan Pangan Sidrap: Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Pemkab Sidrap dan kelompok peternak lokal untuk mengatasi spesies invasif di Danau Sidenreng melalui pendekatan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Kontak Media: Bagian Humas Protokol Kabupaten Sidrap Email: info@sidrapkab.go.id








Tinggalkan Balasan