
Melawan Stigma, Menyalakan Pelita Kehormatan dari Bumi Nene Mallomo
Oleh: Fery Sirajuddin
Ruang digital kita kerap kali bekerja dengan cara yang kejam: mereduksi identitas jutaan manusia hanya karena ulah segelintir oknum. Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) adalah salah satu wilayah yang paling sering menelan pil pahit dari mekanisme seleksi alam dunia maya tersebut. Akibat maraknya kasus penipuan daring—yang populer dengan istilah sobis—label miring telanjur melekat dan disematkan secara instan kepada siapa saja yang berasal dari daerah ini. Padahal, narasi tunggal yang destruktif ini merupakan sebuah distorsi telak, jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan potret seutuhnya tentang tanah Nene Mallomo yang sarat dengan akar kebaikan, ketekunan, dan nilai-nilai religius.
Di balik riuh rendah stigma dunia maya yang menyudutkan, denyut kehidupan utama Sidrap justru berdetak secara konsisten di atas lumpur sawah dan lumbung-lumbung pangan. Wilayah ini sejak lama telah menahbiskan dirinya sebagai salah satu lumbung padi utama di Sulawesi Selatan, tempat para petani mendedikasikan hidupnya dari pagi hingga senja merawat kesuburan tanah dengan keringat dan ketulusan. Mereka adalah pahlawan pangan sesungguhnya yang menopang ketahanan kebutuhan beras regional melalui etos kerja yang tinggi. Etos ketulusan ini bukan lahir di ruang hampa, melainkan sejalan dengan kearifan lokal
Tidak hanya kaya secara agraris, Sidrap juga merupakan bumi yang subur dengan syiar Islam dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Daerah ini berdiri kokoh sebagai rumah bagi banyak ulama kharismatik, pesantren-pesantren besar yang melahirkan peradaban, serta ribuan penghafal Al-Qur’an (hafiz dan hafizah) yang ditempa dari surau-surau dan lembaga pendidikan Islam di berbagai pelosok desa. Setiap tahunnya, generasi muda Sidrap senantiasa menorehkan prestasi membanggakan di bidang keagamaan, mencerminkan wajah masyarakat yang religius, santun, dan memegang teguh ajaran agama dalam denyut keseharian mereka.
Sudah saatnya kita melihat Sidrap secara utuh dan adil—bukan melalui kacamata hitam-putih dari kasus kriminalitas digital yang dilakukan oleh mereka yang telah kehilangan arah, melainkan melalui tetesan keringat para petani yang gigih membajak bumi dan ketulusan para penjaga kalam Ilahi. Sidrap jauh lebih besar daripada sekadar stigma digital; ia adalah tanah yang kaya akan kehormatan, ketekunan, dan kemuliaan yang terus bernyala dari masa ke masa. (Fery )








Tinggalkan Balasan