Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 8165 • Lihat semua

Sidrap, Fakta1.Com — Nilai dalam rapor pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas. Di balik capaian literasi dan numerasi yang masih perlu diperkuat, ada pekerjaan besar yang menanti ruang-ruang kelas di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Pemerintah Kabupaten Sidrap mulai bergerak dari salah satu titik paling menentukan: meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar.

Sebanyak 300 guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti pelatihan Penguatan Pembelajaran STEM Berbasis Matematika dan Numerasi di Aula Universitas Ichsan (UNISAN) Pangkajene. Program ini menggandeng Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) dan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).

Pelatihan dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidrap, H. Sirajuddin A., S.P., M.Si., pada Senin (19/10/2026). Kegiatan dibagi dalam dua gelombang, masing-masing pada 19–21 Oktober dan 22–24 Oktober 2026.

Langkah tersebut berangkat dari hasil Rapor Pendidikan Sidrap 2025. Kemampuan literasi dan numerasi murid SD umum serta SMP umum tercatat berada pada kategori sedang. Sementara itu, jenjang SMP kesetaraan masih berada dalam kategori kurang.

Angka-angka itu menjadi pengingat bahwa pembenahan pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbarui kurikulum atau menambah materi pelajaran. Cara guru menyampaikan ilmu dan cara murid memahami pelajaran juga perlu mendapat perhatian.

“Dengan menggandeng Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) yang merupakan mitra nasional, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM guru SD dan SMP di Kabupaten Sidenreng Rappang secara mendasar,” ujar Sirajuddin.

Matematika Bukan Sekadar Hafalan

Salah satu tantangan pembelajaran yang disoroti dalam pelatihan ini adalah kebiasaan mengajarkan matematika sebagai kumpulan rumus dan prosedur hitung.

Murid mungkin mampu mengerjakan soal dengan pola yang sudah dikenal. Namun, ketika diminta membaca data, memahami persoalan sehari-hari, atau menentukan solusi berdasarkan informasi yang tersedia, mereka menghadapi tantangan berbeda.

Di sinilah pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ditawarkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran.

Perwakilan YPAN, Fais Bayu Wicaksono, S.H., mengatakan guru memiliki peran penting dalam mendorong perubahan tersebut. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun kemampuan murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah.

Melalui pendekatan STEM, matematika dihubungkan dengan sains, teknologi, dan rekayasa. Murid didorong memahami bagaimana konsep yang dipelajari dapat digunakan untuk membaca fenomena nyata, menganalisis informasi, hingga merancang solusi sederhana.

Dengan begitu, belajar matematika tidak berhenti pada pertanyaan berapa hasil sebuah perhitungan. Murid juga diajak memahami mengapa perhitungan itu diperlukan dan bagaimana hasilnya digunakan.

Guru SD dan SMP Mendapat Pendekatan Berbeda

Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan.

Untuk guru SD, pembelajaran diarahkan pada penggunaan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar serta media permainan. Pendekatan ini diharapkan membantu murid memahami konsep dasar bilangan, pengukuran, dan bangun ruang melalui pengalaman yang lebih konkret.

Sementara itu, guru SMP mendapatkan penguatan dalam pemanfaatan analisis data, eksperimen sederhana, teknologi digital, serta perangkat lunak untuk mendukung pembelajaran.

Perbedaan pendekatan ini penting karena kebutuhan belajar murid SD tidak sepenuhnya sama dengan murid SMP. Metode yang tepat diharapkan membuat konsep matematika lebih mudah dipahami dan tidak terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pelatihan Harus Berujung pada Praktik di Kelas

Ukuran keberhasilan pelatihan bukan semata-mata jumlah guru yang hadir atau materi yang selesai disampaikan.

Karena itu, peserta diwajibkan menyusun modul ajar STEM Matematika dan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dokumen tersebut memuat target uji coba di kelas, penanggung jawab, serta bukti implementasi yang akan menjadi bagian dari tindak lanjut pelatihan.

Peserta juga menjalani praktik peer teaching atau pembelajaran antarguru, disertai penyusunan rancangan pembelajaran dan refleksi.

Menurut Fais, hasil dari proses tersebut diharapkan menjadi pijakan awal untuk memperbaiki pembelajaran matematika dan numerasi di Sidrap.

YPAN, yang disebut telah berpengalaman lebih dari 14 tahun sebagai mitra APKASI dengan jangkauan 250.000 peserta di 275 kabupaten, turut menekankan pentingnya kesinambungan program. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan sekolah perlu bekerja bersama agar metode yang diperoleh guru tidak berhenti sebagai materi pelatihan.

Gelombang kedua dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Oktober 2026.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan menyelenggarakan pelatihan selama beberapa hari. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh benar-benar masuk ke ruang kelas, mengubah cara murid belajar, dan perlahan memperbaiki capaian pendidikan.

Sebab, rapor pendidikan baru akan bermakna ketika angka-angka di dalamnya berubah menjadi alasan untuk berbenah—dan perubahan itu benar-benar dirasakan oleh murid.(Fs)

Gandeng YPAN dan APKASI, Disdikbud Sidrap Perkuat Kualitas Guru SD-SMP Lewat Pembelajaran STEM

Terima kasih telah membaca artikel ini. Temukan informasi dan berita terbaru lainnya melalui kanal resmi kami.

Ikuti informasi terbaru melalui Saluran WhatsApp .