
Sidrap, Fakta1.com — Biasanya guru berdiri di depan kelas, sementara murid duduk mendengarkan. Namun, dalam pelatihan numerasi STEM di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), posisi itu dibalik.
Para guru justru harus duduk sebagai murid, mengerjakan soal, membedah persoalan, merancang proyek, hingga bergantian mengajar di hadapan rekan sendiri.
Bukan sekadar permainan peran. Cara ini menjadi bagian dari upaya mengubah pembelajaran matematika yang selama ini kerap identik dengan rumus dan hafalan menjadi proses belajar yang lebih kontekstual, interaktif, dan menyenangkan.
Sebanyak 300 guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti bimbingan teknis Penguatan Pembelajaran STEM Berbasis Matematika dan Numerasi yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) di Aula Universitas Ichsan (UNISAN) Pangkajene, Sidrap.
Pelatihan berlangsung dalam dua gelombang, yakni 19–21 Oktober dan 22–24 Oktober 2026. Kegiatan ini dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidrap, H. Sirajuddin A., S.P., M.Si.
Membongkar Soal, Memahami Cara Berpikir
Hari pertama tidak langsung dimulai dengan ceramah panjang. Peserta terlebih dahulu menjalani pre-test, kemudian diajak memahami numerasi melalui soal-soal yang berkaitan dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
Materi mencakup empat domain konten, yaitu bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan ketidakpastian.
Guru tidak hanya diminta menghitung jawaban. Mereka juga mempelajari konteks persoalan dan tingkat kemampuan berpikir yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Setelah itu, pelatihan berlanjut ke pengenalan STEM, singkatan dari Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Para peserta memetakan capaian pembelajaran matematika SD dan SMP yang dapat dihubungkan dengan pendekatan tersebut.
Urutannya penting. Sebelum merancang pembelajaran, guru perlu memahami terlebih dahulu kemampuan apa yang hendak dibangun dan bagaimana kemampuan itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika, dengan demikian, tidak berhenti pada angka di papan tulis. Ia menjadi alat untuk membaca situasi, memahami informasi, dan menemukan jalan keluar dari sebuah persoalan.
Matematika Tak Harus Membuat Murid Tegang
Pada hari kedua, peserta mulai masuk ke wilayah praktik. Mereka mempelajari Project-Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek.
Guru dibimbing menyusun kegiatan yang berangkat dari fenomena di sekitar murid. Proyek dirancang dengan pertanyaan pemantik, tahapan pengerjaan, dan hasil akhir yang dapat ditunjukkan atau dipresentasikan.
Pendekatan ini memberi ruang bagi murid untuk menggunakan matematika dalam proses menemukan jawaban, bukan sekadar menghafal prosedur.
Sesi berikutnya membahas cara menghidupkan suasana kelas. Mulai dari membuka pelajaran, mengelola kegiatan inti, menutup pembelajaran dengan refleksi, hingga memanfaatkan permainan edukatif dan ice breaking.
Di sinilah konsep joyful learning diperkenalkan: pembelajaran yang menyenangkan tanpa kehilangan tujuan akademiknya.
Sebab, bagi sebagian murid, matematika sudah telanjur terasa menakutkan. Soal yang sulit, suasana kelas yang kaku, dan ketakutan membuat kesalahan bisa menghambat keberanian mereka untuk mencoba.
Guru dilatih menciptakan suasana yang lebih aman, sehingga murid berani bertanya, mengemukakan pendapat, dan memperbaiki jawaban ketika keliru.
Menyenangkan bukan berarti pelajaran dibuat tanpa tantangan. Justru, murid diharapkan mampu menghadapi tantangan tanpa lebih dahulu takut terhadap pelajarannya.
Ketika Guru Harus Mengajar Rekannya Sendiri
Puncak pelatihan berada pada hari ketiga. Pada tahap ini, peserta dituntut mengubah pengetahuan menjadi perangkat pembelajaran yang bisa digunakan di sekolah.
Guru menyusun rencana pembelajaran STEM Matematika, mempraktikkannya, kemudian melakukan refleksi. Pada rangkaian kegiatan gelombang kedua, peserta juga diarahkan menyusun modul ajar yang lebih komprehensif, mulai dari tujuan pembelajaran, stimulus, tahapan kegiatan, instrumen asesmen, hingga rubrik penilaian.
Ada satu sesi yang menjadi ujian praktik: peer teaching atau mengajar sebaya.
Para guru bergantian mengambil peran sebagai pengajar dan murid di hadapan rekan sejawat. Mereka tidak cukup hanya menjelaskan materi, tetapi juga harus menunjukkan bagaimana sebuah pembelajaran dirancang, disampaikan, dan dievaluasi.
Di ruang itu, guru memperoleh kesempatan merasakan sendiri bagaimana rasanya menerima penjelasan, menghadapi pertanyaan, serta mengikuti kegiatan belajar yang disusun oleh orang lain.
Rekan sejawat kemudian dapat memberikan masukan untuk memperbaiki rancangan maupun cara mengajar.
Praktik ini sekaligus menjadi ruang evaluasi sebelum metode tersebut diterapkan kepada murid sesungguhnya.
Ukurannya Bukan Sertifikat, Melainkan Perubahan di Kelas
Perwakilan YPAN, Fais Bayu Wicaksono, S.H., menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya materi yang disampaikan selama kegiatan.
Yang lebih penting ialah pemahaman dan keterampilan yang dapat dibawa guru ke ruang kelas.
“Kemampuan matematika dan numerasi merupakan fondasi krusial bagi peserta didik untuk memahami informasi, mengolah data, menggunakan penalaran logis, serta mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupan,” ujar Fais.
Ia berharap peserta mendapatkan pengalaman belajar yang utuh, mulai dari memahami konsep dasar, merancang strategi, mempraktikkan gagasan, hingga mengevaluasi hasilnya.
Karena itu, pelatihan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Di dalamnya terdapat jadwal uji coba pembelajaran di kelas masing-masing, penanggung jawab, dan dokumentasi sebagai bukti implementasi.
Fasilitas pelatihan juga mencakup modul dan materi pembelajaran, pendampingan instruktur, konsumsi, coffee break, seminar kit, serta doorprize.
Namun, seluruh fasilitas dan rangkaian kegiatan itu baru menjadi modal awal.
Ujian sesungguhnya akan berlangsung setelah para guru kembali ke sekolah. Apakah soal numerasi akan dijelaskan dengan cara yang lebih mudah dipahami? Apakah murid mendapat kesempatan lebih luas untuk mencoba dan memecahkan masalah? Dan apakah metode yang dipraktikkan selama pelatihan benar-benar diterapkan?
Di situlah hasil pelatihan STEM di Sidrap akan menemukan ukurannya.
Sebab, guru yang baik bukan hanya mampu menjelaskan jawaban. Ia juga harus mampu membimbing murid menemukan cara untuk menjawabnya.







Tinggalkan Balasan