
Banjir Langganan: Saat hujan deras, wilayah hilir bukan lagi menerima air, melainkan kiriman lumpur dan sedimentasi yang merusak sanitasi serta lahan pertanian warga.
Krisis Kadar Tinggi: Nikel kadar tinggi dikuras tanpa kendali, meninggalkan sisa-sisa tambang yang sulit direklamasi dalam waktu singkat.
- Apatisme Publik dan Ironi Kesejahteraan
Yang paling menyedihkan adalah sepinya perlawanan. Suara dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan aktivis belum mampu menggoyahkan kemauan politik penguasa. Isu lingkungan masih dianggap sebagai “kerikil kecil” di tengah “jalan tol” investasi.
Ada ketimpangan yang nyata: nikelnya dikirim ke luar negeri untuk baterai masa depan dunia, sementara warga lokal di Konawe harus bergelut dengan infrastruktur rusak dan ancaman kehilangan tempat tinggal akibat bencana
Kesimpulan Kritis: Menuju Titik Nadir
Jika pola pengelolaan ini tidak dirombak total—mulai dari pembatasan kuota produksi hingga penegakan hukum lingkungan yang tanpa pandang bulu—maka dalam satu dekade ke depan, Sulawesi Tenggara hanya akan menyisakan lubang-lubang raksasa.
Kita tidak sedang mewariskan kekayaan kepada anak cucu. Kita sedang mewariskan tanah yang lelah, air yang tercemar, dan kemiskinan pasca-tambang. Pilihannya hanya satu: Warisan atau Kerusakan? Sulawesi Tenggara sedang berada di titik nadir, dan waktu terus berjalan menuju angka nol.
Penulis Jumardin H. ( Jurnalis Fakta1.com )








Tinggalkan Balasan