Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 7019 Lihat semua

OPINI — Di Tanah Nene Mallomo, pepatah “Resopa Temmangngingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata” bukan sekadar deretan kata tanpa makna. Ia adalah kompas moral yang menegaskan bahwa keberkahan Tuhan hanya akan turun kepada mereka yang bekerja keras dengan ketekunan tanpa batas.

Namun, seiring dinamika zaman, nilai luhur ini sering kali berbenturan dengan realitas ekonomi yang kian menantang. Lahirlah sebuah dialektika antara idealisme pengabdian dan tuntutan kebutuhan hidup.

Tulisan ini mencoba membedah bagaimana filosofi lokal Sidrap tersebut dapat menjadi landasan edukasi dalam membangun etos kerja yang sehat di masa kini.

  1. Saromase: Integritas Hati dalam Bingkai Profesionalisme
    Sering kali terjadi miskonsepsi bahwa Saromase atau keikhlasan berarti mengabaikan hak materi. Secara edukatif, kita perlu memahami bahwa Saromase adalah sebuah mentalitas, bukan penjara ekonomi.
  • Nilai Edukasi: Ikhlas dalam bekerja berarti memberikan kualitas terbaik sebagai bentuk tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama (integritas).
  • Aplikasi Realitas: Bekerja secara profesional dengan menuntut hak yang layak adalah hal yang manusiawi dan legal. Saromase berperan menjaga agar motivasi utama tidak semata-mata dikendalikan oleh materi, sehingga pekerjaan tetap bernilai ibadah.
  1. Sinergi Tangan di Atas dan Kaki di Bumi
    Filosofi tanpa strategi akan sulit menghadapi kerasnya tekanan hidup. Kita diajarkan untuk tidak hanya memiliki “hati yang memberi”, tetapi juga “kaki yang memijak bumi”—memiliki perencanaan dan kemandirian ekonomi yang kuat.
  • Keseimbangan: Menjalankan Resopa (kerja keras) secara profesional memungkinkan kita memenuhi kebutuhan hidup secara bermartabat.
  • Dampak Psikologis: Dengan napas Saromase, rezeki yang didapat secara halal mendatangkan ketenangan batin. Keberkahan bukan soal nominal, melainkan tentang kecukupan dan manfaat yang dirasakan keluarga.
  1. Keikhlasan sebagai Investasi Sosial dan Spiritual
    Sejarah Sidrap kaya akan narasi tentang tokoh-tokoh yang mendahulukan kemanusiaan, yang kemudian hidupnya dicukupkan melalui jalan tak terduga. Dalam dunia modern, hal ini dikenal sebagai social capital atau modal sosial.
  • Investasi Langit: Kebaikan yang dilakukan dengan tulus membangun kepercayaan (trust) di mata masyarakat. Kepercayaan inilah yang sering kali membuka pintu kesempatan baru di masa depan.
  • Keyakinan Spiritual: Percaya bahwa setiap tetes keringat yang didasari ketulusan akan dibalas oleh Sang Pemberi Rezeki melalui berbagai bentuk kemudahan hidup lainnya.

Kesimpulan dan Renungan
Saromase bukanlah tentang bekerja secara cuma-cuma, melainkan tentang bekerja dengan hati yang merdeka. Kita tidak perlu kehilangan sisi kemanusiaan demi mengejar angka, namun kita juga tidak boleh abai terhadap tanggung jawab menghidupi keluarga secara mulia.

Mari kita jadikan filosofi Nene Mallomo ini sebagai pemantik semangat: bahwa kerja keras yang dibalut keikhlasan adalah kunci utama untuk menjemput rahmat Tuhan di tengah kerasnya tuntutan ekonomi dunia.

Oleh: Fery Sirajuddin

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.