
Konawe,fakta1.com – Di tengah pesatnya perkembangan media digital saat ini, dunia jurnalistik menghadapi tantangan serius yang dinilai dapat merusak marwah dan kehormatan profesi pers. Praktik salin tempel atau copy paste karya jurnalistik milik media lain tanpa etika disebut semakin marak dilakukan oleh sejumlah oknum yang mengaku sebagai wartawan, citizen journalist, maupun insan pers.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena banyak tulisan dari media lain hanya diubah pada bagian judul, susunan kalimat, maupun beberapa paragraf, kemudian dipublikasikan ulang seolah menjadi hasil karya pribadi. Padahal, tindakan tersebut dinilai bukan hanya melanggar etika jurnalistik, tetapi juga mencerminkan kemiskinan gagasan, kemalasan intelektual, serta rendahnya penghargaan terhadap proses kerja jurnalistik yang sesungguhnya.
Ketua JMSI Provinsi Sulawesi Tenggara, Adhi Yaksa Pratama atau yang akrab disapa Bang Saldy, menegaskan bahwa profesi wartawan bukan pekerjaan instan yang hanya mengandalkan karya orang lain demi mengejar tayangan dan kecepatan publikasi.
Menurutnya, wartawan sejati lahir dari proses kerja lapangan, keberanian mencari fakta, melakukan konfirmasi, membangun narasi berdasarkan data, serta menyampaikan informasi sesuai kenyataan yang ditemukan di lapangan.
“Jangan ko mengaku wartawan kalau setiap berita mu itu cuma karya tulis orang lain yang ko salin lalu ganti judul sedikit. Itu bukan kerja jurnalistik, itu cuma mempermalukan profesi pers. Wartawan itu tugasnya turun cari fakta, wawancara narasumber, verifikasi data, lalu menulis dengan hasil pemikiran sendiri, bukan sibuk jadi tukang copy-paste,” tegas Bang Saldy.
Ia menilai, saat ini ada sebagian oknum yang lebih memilih jalan pintas dibanding melakukan kerja jurnalistik secara benar. Bahkan, ada yang hanya menunggu media lain menerbitkan berita, lalu mengambil isi tulisan untuk dipublikasikan kembali tanpa rasa malu.
“Harus ko tanamkan dalam pikiranmu bahwa profesi wartawan itu mencari informasi, mengecek fakta di lapangan, lalu memberikan informasi kepada masyarakat sesuai fakta
Bang Saldy juga menekankan bahwa pers memiliki tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, insan pers seharusnya menghadirkan karya jurnalistik yang lahir dari proses, ide, dan tanggung jawab moral, bukan dari kebiasaan mengambil hasil kerja media lain untuk diakui sebagai karya sendiri.
“Pers itu bukan tempat orang malas berpikir. Jangan karena mau cepat tayang lalu ko korbankan etika dan martabat jurnalistik. Semua media pasti bisa cepat, tapi tidak semua media mampu menjaga integritas dan kualitas tulisannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat saat ini semakin cerdas dalam menilai kualitas sebuah media. Di era digital, publik sangat mudah mengetahui mana karya jurnalistik asli hasil liputan dan mana tulisan yang hanya hasil salin-tempel dari media lain.
Menurutnya, praktik seperti itu sangat berbahaya bagi masa depan dunia pers karena dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap media dan profesi wartawan secara keseluruhan. Jika budaya copy paste terus dipelihara, maka dunia jurnalistik dikhawatirkan akan kehilangan nilai profesionalisme, integritas, dan identitasnya sebagai pilar informasi yang independen dan terpercaya.
“Jurnalisme sejati dibangun dengan keberanian, kejujuran, integritas, dan kemampuan menghasilkan karya sendiri. Wartawan itu hadir untuk mencari fakta lalu menyampaikan kebenaran kepada publik, bukan menjadi pengemis atau pencuri karya tulis orang lain. Terakhir ia menambahkan dengan tutur kata Style orang Kendari, Kalau kerja mu cuma salin tempel berita media lain, jangan ko bawa-bawa nama profesi wartawan,” pungkasnya.








Tinggalkan Balasan