
KONAWE,FAKTA1.COM – Komitmen dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di tingkat dasar kembali ditegaskan melalui Pelatihan Basic Trauma and Life Support (BTLS) bagi perawat se-Kabupaten Konawe.
Kegiatan yang digelar di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe ini diikuti oleh 27 perawat perwakilan dari seluruh Puskesmas di wilayah tersebut. Senin 16 Februari 2026
Pelatihan ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas tenaga keperawatan, khususnya dalam penanganan kasus kegawatdaruratan medis di lini terdepan pelayanan kesehatan.
Ketua Panitia Pelaksana, Arisman, SE, yang akrab disapa Kang Babang, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan bentuk komitmen nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia keperawatan di Konawe.
Menurutnya, Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam berbagai situasi darurat, perawat kerap menjadi tenaga pertama yang berhadapan langsung dengan pasien sebelum mendapat penanganan lanjutan atau dirujuk ke rumah sakit.
“Puskesmas adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Dalam situasi darurat, perawat sering kali menjadi tenaga pertama yang melakukan tindakan penyelamatan. Karena itu, kompetensi dasar seperti penanganan trauma dan bantuan hidup harus terus diperkuat dan diperbarui. Tidak boleh ada ruang untuk keraguan ketika menyangkut keselamatan nyawa manusia,” tegas Kang Babang.

Ia menambahkan bahwa pelatihan BTLS merupakan investasi kompetensi agar seluruh perawat di Konawe memiliki standar kemampuan yang sama dalam menghadapi kondisi kritis, seperti kecelakaan lalu lintas, henti jantung, henti napas, trauma berat, maupun kegawatdaruratan lainnya.
“Dengan kemampuan yang terstandar, respons menjadi lebih sistematis, terukur, dan terkoordinasi,” ujarnya.
Kang Babang juga menekankan pentingnya membangun mental kesiapsiagaan (preparedness mindset) di kalangan perawat.
“Dalam kondisi darurat, yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga ketenangan, ketepatan pengambilan keputusan, serta keberanian bertindak sesuai SOP. Kita ingin membentuk perawat yang kompeten secara teknis dan tangguh secara mental,” tambahnya.
Ia menyebut, kegiatan ini selaras dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Konawe, yakni Konawe Bersahaja.
“Konawe Bersahaja bukan sekadar slogan, tetapi komitmen menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, transparan, dan berkeadilan. Peningkatan kompetensi perawat melalui BTLS ini adalah bagian dari kontribusi nyata kami dalam mendukung visi tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris PUSBANGDIKLAT DPW PPNI Sultra, Tri Setiawan, S.Kep., Ns., menegaskan bahwa pelatihan ini juga menjadi ajang penyegaran kompetensi (refreshing skill) agar perawat tetap adaptif terhadap perkembangan standar praktik kegawatdaruratan.
Menurutnya, dalam praktik sehari-hari tenaga kesehatan di Puskesmas kerap menghadapi berbagai kondisi kritis yang memerlukan respons cepat dan tindakan terukur sebelum proses rujukan dilakukan.
“Sering kali waktu menjadi faktor penentu keselamatan pasien. Ketepatan dalam melakukan penilaian awal dan tindakan pertama sangat berpengaruh terhadap prognosis pasien. Karena itu, kemampuan dasar kegawatdaruratan harus terus dilatih dan diasah,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa materi pelatihan disusun secara komprehensif, meliputi konsep dasar trauma dan mekanisme cedera, penilaian awal pasien (primary survey dan secondary survey), teknik stabilisasi dan imobilisasi, prosedur Resusitasi Jantung Paru (RJP), Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support), hingga simulasi penanganan kasus yang dirancang mendekati kondisi nyata di lapangan.
Selain teori, peserta juga mengikuti sesi praktik intensif guna memastikan setiap prosedur dapat diterapkan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan pedoman praktik keperawatan yang berlaku. Pendekatan berbasis praktik ini diharapkan meningkatkan ketepatan klinis, kecepatan respons, serta kepercayaan diri perawat dalam mengambil keputusan saat menghadapi situasi kritis.
Pelatihan dasar kegawatdaruratan ini diinisiasi oleh Puskesmas Puriala sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya kesiapsiagaan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan tingkat pertama.
Perwakilan Puskesmas sekaligus KTU UPTD Puskesmas Puriala, Sudarso, S.Km., S.Farm., menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam menyamakan persepsi dan standar pelayanan kegawatdaruratan di seluruh Puskesmas di Kabupaten Konawe.
Kegiatan ini dilaksanakan sejak 12 Februari 2026 secara daring melalui aplikasi Zoom, kemudian dilanjutkan secara luring pada 16 Februari 2026 dengan sesi praktik dan simulasi langsung guna memperkuat pemahaman serta keterampilan peserta.
Ia berharap peningkatan kompetensi yang terstandar dapat membuat koordinasi penanganan kasus serta proses rujukan berjalan lebih efektif dan efisien, sehingga risiko komplikasi maupun angka kematian akibat keterlambatan penanganan dapat ditekan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para perawat aktif mengikuti diskusi, tanya jawab, praktik keterampilan, hingga simulasi kasus yang menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Menutup kegiatan tersebut, Kang Babang menegaskan bahwa PUSBANGDIKLAT DPW PPNI Sulawesi Tenggara akan terus mendorong pelatihan serupa secara berkelanjutan demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang cepat, responsif, profesional, serta berorientasi pada keselamatan pasien di Kabupaten Konawe.(ql)










Tinggalkan Balasan