Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6832 Lihat semua

JAKARTA, FAKTA1.COM – Persis satu tahun sejak bergulirnya gerakan perburuan ijazah palsu Joko Widodo, kawasan Senayan kembali memanas. Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam koalisi peduli kejujuran dan keterbukaan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Kamis (16/4/2026).

Aksi ini menjadi refleksi atas kegaduhan panjang yang telah menyita energi bangsa dan memakan korban hukum seperti Bambang Tri serta Gus Nur.
​Kritik Pedas Roy Suryo: “Kejahatan yang Sulit Dimaafkan”
​Dalam orasinya di atas mobil komando, pakar telematika Roy Suryo melontarkan kritik tajam.

Ia menyoroti sikap diam Presiden yang dinilai membiarkan polemik ini berlarut-larut tanpa klarifikasi tuntas yang mampu menghentikan kebisingan publik.

​”Kalau pun ijazah Joko Widodo itu ada dan asli, sikap Jokowi membiarkan kegaduhan ini terus berkepanjangan adalah kejahatan yang sulit dimaafkan,” tegas Roy di hadapan massa.

Ia juga menyayangkan bungkamnya para wakil rakyat di dalam gedung parlemen yang seolah enggan bersuara atas aspirasi tersebut.

​Tokoh Pergerakan Bersatu
​Koordinator sekaligus penggagas acara, Rustam Efendi, berhasil mengonsolidasikan berbagai tokoh lintas daerah dan latar belakang. Nampak hadir dalam barisan orator:
​Prof. Sri Bintang Pamungkas dan Prof. Afandi Arsyad (Bogor).
​Jenderal Soenarko (Mantan Danjen Kopassus) dan Marwan Batubara.
​Bambang Tri, yang dalam orasi singkatnya membakar semangat kawan-kawan pergerakan untuk terus berjuang.

​Perwakilan daerah seperti Merry (Lampung), Wuri (Solo), dan Wati Salam (Aspirasi Indonesia).
​Waspada “Operasi Kodok”
​Suasana semakin menarik saat pakar hukum

tata negara, Refly Harun, hadir menjelang akhir acara.

Kehadirannya disambut hangat oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara. Dalam diskusi mereka, Sri Eko mengingatkan massa akan bahaya fenomena “Operasi Kodok”.

​Istilah ini digambarkan sebagai upaya adu domba dari pihak lawan yang identik dengan tabiat kodok: hidup di dua alam (dua kaki), berisik mengganggu ketenteraman, dan gemar melompat demi mencari aman sendiri.

“Kita harus waspada terhadap penggiringan opini dan kriminalisasi, seperti yang mulai menyasar tokoh nasional maupun partai politik. Kaum pergerakan harus bersatu agar tidak terpecah belah seperti kasus yang dialami Rismon Sianipar,” ujar Sri Eko.

​Koalisi Berbagai Elemen
​Aksi yang berlangsung tertib ini diikuti oleh berbagai organisasi masyarakat (Ormas), di antaranya:

  • ​Pejabat (Pengacara & Jawara Bela Rakyat)
  • ​Forum Komunikasi Purnawirawan
  • ​Gerakan Jalan Lurus & Pendekar Muslim Indonesia
  • ​Forum Aksi Alumni Kampus Seluruh Indonesia serta UI Watch yang membawa panji Veritas, Probitas, Iustitia.

​Massa mulai memadati lokasi setelah waktu salat Asar dan membubarkan diri dengan tertib menjelang kumandang azan Magrib.

Aksi ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah dan DPR bahwa isu transparansi ijazah belum dianggap usai oleh sebagian elemen masyarakat.

Penulis- Jakob Ereste
​Senayan, 16 April 2026

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.