Kolaka, fakta1.com – Jumat siang, 21 Februari 2026, langit Desa Tamborasi, Kecamatan Iwomendaa, tampak teduh seolah ikut menyaksikan sebuah peristiwa yang tak sekadar seremonial.

Angin laut berembus lembut, menyusuri lorong-lorong rumah panggung warga, membawa aroma asin yang bercampur dengan getar harap.

Di desa kecil yang bersahaja itu, siang terasa berbeda. Bukan karena gemuruh wisatawan, bukan pula karena riuh pasar. Hari itu, yang hadir adalah kepedulian

Satu per satu kendaraan berhenti. Kotak-kotak sembako diturunkan dengan hati-hati. Di balik kardus-kardus berisi beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, tersimpan niat yang lebih besar: meringankan beban dan menguatkan iman.

Ketua Wisata Tamborasi, Isman Semarah, SE, berdiri di tengah warga. Bersama seluruh karyawan dan karyawati, ia menyalurkan bantuan kepada 27 warga yang membutuhkan serta empat masjid di Desa Tamborasi. Tidak ada jarak yang dibuat. Tidak ada sekat antara pemberi dan penerima. Yang ada hanyalah tatap mata yang saling memahami.

Beberapa warga tak kuasa menahan haru. Tangan renta menggenggam paket sembako dengan erat, seakan takut kebahagiaan kecil itu terlepas. Bibir-bibir bergetar lirih, “Alhamdulillah…” Doa-doa terucap pelan, namun terasa menggema hingga ke relung dada.

Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin hanya angka dan barang. Namun bagi mereka yang setiap hari berjibaku dengan kebutuhan hidup, itu adalah napas tambahan. Itu adalah keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.

“Dengan hadirnya Wisata Tamborasi di Desa Tamborasi, kami ingin memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Isman dengan suara mantap, namun sarat empati.

“Setidaknya kami bisa membantu meringankan beban warga dan turut mendukung upaya pemerintah daerah dalam pemulihan ekonomi.”

Empat masjid yang menerima bantuan dana tunai pun menjadi saksi bahwa perhatian tak hanya berhenti pada urusan perut, tetapi juga pada penguatan rohani.

Di bulan-bulan penuh ibadah, masjid adalah jantung desa tempat doa dipanjatkan, tempat anak-anak belajar mengaji, tempat masyarakat menautkan harapan kepada Tuhan.

Suasana siang itu berubah menjadi ruang silaturahmi. Para karyawan Wisata Tamborasi tak sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga duduk berbincang, mendengar kisah tentang hasil laut yang tak menentu, tentang harga kebutuhan yang kian naik, tentang harapan orang tua pada masa depan anak-anak mereka.

Isman pun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah atas dukungan terhadap pengembangan Wisata Tamborasi. Ia menegaskan bahwa pariwisata bukan hanya tentang membangun spot foto atau menarik pengunjung, tetapi tentang bagaimana kehadirannya mampu menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan menghidupkan UMKM lokal.

Namun ia juga jujur mengakui, belum semua bisa dijangkau.

“Dari data sementara, baru sekitar 27 warga yang bisa kami bantu. Kami memprioritaskan yang benar-benar membutuhkan. Insya Allah, ke depan program sosial seperti ini akan terus berlanjut secara bertahap,” katanya.

Seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa syukur mendalam. Menurutnya, Wisata Tamborasi kini bukan hanya ikon destinasi berkembang di Kabupaten Kolaka, tetapi juga telah menjadi denyut baru bagi perekonomian desa dari pedagang kecil, penyedia jasa, hingga pelaku UMKM yang mulai merasakan dampaknya.

Di penghujung kegiatan, tangan-tangan terangkat menembus langit sore. Doa dipanjatkan dengan tulus: semoga usaha ini diberkahi, semoga rezeki dilapangkan, semoga kebersamaan tak pernah pudar.

Karena pada akhirnya, pariwisata bukan hanya tentang bentang alam yang indah atau ombak yang memikat. Ia adalah tentang manusia. Tentang rasa peduli. Tentang keberanian untuk berbagi di tengah keterbatasan.

Di antara deretan sembako dan amplop bantuan itu, terselip pesan yang jauh lebih besar bahwa sekecil apa pun kebaikan, jika dilakukan dengan hati, mampu menyalakan cahaya harapan yang tak mudah padam di pesisir Tamborasi.(*)