Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6559 Lihat semua

Jacob Ereste :
Intelektualitas Tanpa Spiritualitas : Ibarat Kendaraan Tampa Kemudi

Opini– Intelektual tanpa moral ibarat kendaraan tampa kemudi. Karena intelektualitas manusia mampu menjelajah ke delapan punjuru angin. Akibatnya, intelektualitas manusia bisa nenjadi liar, seperti binatang jalang. Buas siap menerkam untuk melampiaskan hasrat birahi tanpa cinta dan kasih serta sifat dan sikap empati yang kiosing, tiada getaran cinta serta tiada belas kasihan.

Karena itu kecenderungan untuk melakukan tipu daya, tidak sportif dan culas memenuhi telung hati yang bebas dan terbuka tanpa sekat, sehingga rasa malu menjadi kandas dan kering, layak sawah dan ladang tidak tersiram hujan. Meranggas, tiada ada bunga yang mengembang dan memutik. Semua layu terkulai menunggu nasib gugur ke bumi.

Intelektualitas tanpa moralitas seperti mesin tanpa kemudi. Tak ada rem dengan gas yang terus dipacu habis, layak sapi karapan yang beringas untuk terus merebut posisi terdepan. Itulah sebabnya egosentrisitas selalu menungangi hak dan kepentingan orang lain, sonder perduli siapapun yang bisa dilabrak, termasuk egoisme diri sendiri.

Begitulah sikap meloco tiada rasa malu yang telah mati terkubur oleh emosi dan egosentrisitas, tak akan pernah sempat tafakur syukur. Seperti semua capaian harus diraih untuk melunasi ambisi yang tidak bertepi. Maka samudra luas pun diarungi, setelah hutan belantara habis terpijak jejak keserakahan yang berulang dikangkangi.

Intelektualitas tanpa moralitas adalah sublimasi dari sosok binatang buas pemangsa bangkai sejenis. Apalagi terhadap makhluk dari habitat lain. Maka itu, tabiat khianat seakan telah menjadi takdir bawaan sejak lahir. Jadi sungguh malang bagi siapa pun yang terlena dalam dekapan para intelektual tanpa moral. Sebab kita pun sebagai saudaranya sendiri tiada perduli untuk diperdaya mapun dikadali hanya untuk kepentingan dan kesukaan serta hasrat birahinya sendiri.

Maka itu

sikap dan perilaku munafik, hipokrit, tipu daya pun menunggangi agama dengan kemasan ayat-ayat riuh dalam beragam narasi lisan maupun tulisan, seperti yang telah dianggap jamak terbingkai pada selembar ijazah untuk penghias dinding, persis semacan beragam gelar dan julukan yang diperoleh dari pasar loak.

Sederetan gelar akademik, gelar adat dan budaya tersusun seperti koleksi kendaraan di dalam garasi untuk sekedar meyakinkan ada dan berada dalam trah tertentu yang tak senbarang untuk disentuh.

Persis seperti itulah kondisi kepongahan akademik yang lancung terkilir, hingga perlu obat gosok tradisional yang acap dileceh semacam pemahaman medis yang berbasis pada perdukunan yang tidak mampu dicerna oleh akal yang keblinger. Seakan-akan semua yang ilmiah adalah kepastian yang paling mustajab untuk menjawab semua masalah yang terjadi di bumi.

Kecerdasan yang hanya berbasis pada kemampuan intelektualitas, adalah kepastian yang tak terbantah dari fenomena sikap khianat dari mereka yang bergelar akademik maupun mereka yang berjuluk palsa dari bilik budaya dan masyarakat adat — bahkan bagi mereka berjubah agama — karena abai terhadap sakralitas pada nilai-nilai spritual yang harus dan patut digunakan sebagai perusai diri, agar tidak terpedaya pada bisikan dan bujukan syetan. Realitasnya begitulah, mereka yang maling, tidak amanah bahkan munafik, adalah mereka yang keblinger menggunakan pikiran liarnya yang tidak terkendali itu, tanpa mengikutserakan akal budi. Padahal, akal budi itu hanya mungkin memancarkan cahaya yang terang dan jernih, karena disangga oleh etika, moral yang harus dimikiki oleh manusia untuk tetap menjaga akhkak mulia dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Banten, Menjekang Takbir Idhul Fitri, 20 Maret 2026

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.