
SURABAYA, 30 Maret 2026 — Penanganan kasus seorang lansia bernama Sueb yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi sakit dan kelaparan di sebuah gubuk di wilayah perbatasan kini semakin menuai polemik. Lokasi tersebut diketahui berada sekitaran area Kelurahan Kejawan Putih Tambak, tepat di samping jembatan sungai yang menghubungkan kawasan Mulyorejo menuju wilayah Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya.
Evakuasi yang dilakukan secara diam-diam pada malam hari justru memicu kecurigaan publik adanya dugaan penghilangan barang bukti oleh pihak kelurahan dan kecamatan setempat.
Peristiwa ini menjadi sorotan setelah sejumlah pihak mempertanyakan alasan evakuasi dilakukan saat kondisi lingkungan sepi. Tidak sedikit warga dan pegiat sosial yang menilai langkah tersebut tidak transparan dan terkesan terburu-buru.
Ketua ORMAS SAPURA, Musawwi, menyampaikan keprihatinannya sekaligus mempertanyakan langkah aparat setempat.
“Kenapa evakuasi dilakukan malam hari saat situasi sepi? Kenapa tidak dilakukan pada pagi hari agar terbuka dan bisa disaksikan publik? Ini menimbulkan dugaan adanya upaya menghilangkan barang bukti di lokasi,” tegasnya.
Musawwi menambahkan, pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia menilai kasus yang menimpa Sueb bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan dan kepedulian pemerintah di tingkat bawah.
“Kami akan kawal terus kasus bapak Sueb. Sangat miris, di kota sebesar Surabaya dengan gedung-gedung tinggi, masih ada warga yang hidup dalam kondisi sangat
Fakta lain yang terungkap, berdasarkan keterangan Sueb, dirinya bukan berasal dari Surabaya melainkan dari wilayah Jawa Tengah. Ia juga menyebut bahwa KTP miliknya telah terbakar, sehingga memperumit proses identifikasi dan pendataan dirinya sebagai warga yang telah lama tinggal di Kota Surabaya.
Kondisi tersebut memunculkan kritik keras terhadap Pemkot Surabaya, serta pihak kelurahan dan kecamatan yang diduga tidak memanusiakan seorang warga urbanisasi. Terlebih, Sueb disebut telah cukup lama menetap di Surabaya, namun diduga luput dari pendataan maupun perhatian sosial dari pemerintah setempat.
Kasus ini semakin menguatkan dugaan adanya kelalaian dalam penanganan warga rentan. Selama bertahun-tahun, Sueb disebut hidup sendiri di gubuk sederhana di area tersebut tanpa pendampingan, hingga akhirnya kondisinya viral di pemberitaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kelurahan, kecamatan, maupun Dinas Sosial Kota Surabaya belum memberikan keterangan resmi terkait alasan evakuasi dilakukan pada malam hari serta tudingan penghilangan barang bukti di lokasi.
Publik kini menunggu transparansi dan klarifikasi dari pemerintah setempat. Desakan agar dilakukan investigasi terbuka pun semakin menguat, guna memastikan tidak ada pelanggaran prosedur maupun upaya menutup-nutupi fakta dalam penanganan kasus lansia terlantar tersebut.
(Redho)








Tinggalkan Balasan