Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 7173 Lihat semua

                                                           

Bupati “Nekat” di Tengah Banjir: Kala Syaharuddin Alrif Menukar Selimut dengan Sepatu Bot

Oleh : Fery Sirajuddin

Malam itu, Amparita sedang tidak baik-baik saja. Di wilayah selatan Sidrap tersebut, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi warga yang terjaga. Saat jarum jam merangkak jauh melewati tengah malam—waktu di mana kebanyakan orang memilih mematikan lampu dan menarik selimut lebih rapat—Amparita justru dicekam rasa was-was.

Hujan belum benar-benar reda. Gerimis tipis masih turun di wilayah yang dipimpin Camat Ridwan Bachtiar itu. Angin dingin sesekali menyapu lorong-lorong kecil yang kini berubah menjadi aliran air berwarna cokelat pekat.

Di dalam rumah, suasana mencekam. Ada yang sibuk mengangkat kulkas, memindahkan televisi ke atas lemari, hingga para ibu yang hanya bisa memeluk erat anaknya di atas dipan kayu. Bagi warga lanjut usia, mereka hanya bisa menatap nanar halaman rumah yang telah berubah menyerupai sungai kecil.

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah kabar menyebar cepat dari mulut ke mulut, menembus rintik hujan: “Pak Bupati datang!”

Bukan Sekadar Seremoni

Awalnya, warga sangsi. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang baru saja mendarat dari perjalanan dinas di Jakarta, memilih hadir di lokasi bencana pada jam yang tak lazim? Namun, keraguan itu sirna saat sesosok pria turun dari kendaraan.

Tanpa pengawalan protokoler yang kaku, tanpa payung yang melindungi kepalanya, Syaharuddin Alrif—atau yang akrab disapa Syahar—muncul dengan seragam BPBD dan sepatu bot hitam. Tak ada wajah lelah yang dibuat-buat, meski sisa perjalanan jauh masih membekas.

Ia tidak berhenti di pinggir jalan yang kering. Tanpa banyak bicara, Syahar langsung melangkah masuk ke dalam genangan.

Di beberapa titik, air

sudah mencapai lutut, bahkan hampir menyentuh pusar orang dewasa. Arus kecil bergerak liar di lorong-lorong pemukiman, namun Syahar terus menerabas. Langkahnya hati-hati, sesekali menunduk memastikan pijakan di bawah permukaan air yang keruh, hanya dibantu pantulan cahaya senter petugas.

Hadir Menghapus Rasa Ditinggalkan

Malam itu, Amparita tidak menyajikan panggung politik. Tidak ada sambutan formal, apalagi tepuk tangan. Yang ada hanyalah kehadiran fisik seorang pemimpin yang memahami bahwa dalam bencana, musuh terbesar rakyat bukanlah sekadar air yang naik, melainkan perasaan ditinggalkan oleh pemerintahnya.

Syaharuddin tampak sangat memahami hal itu. Kehadirannya menjadi oase ketenangan bagi warga. Ia berhenti di sebuah rumah yang terasnya nyaris tenggelam, menyapa seorang ibu yang menggendong balita.

“Air masuk sejak kapan, Bu?” tanya Syahar pelan. “Dari habis Isya, Pak,” jawab sang ibu lirih. “Anaknya sehat?” lanjutnya memastikan.

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, namun terasa sangat magis di telinga warga yang sedang kesusahan. Ia memastikan tak ada warga sakit yang tertinggal, memastikan kebutuhan pangan terpantau, dan memastikan lansia diprioritaskan untuk evakuasi.

Di Amparita malam itu, Syaharuddin Alrif menunjukkan bahwa jabatan hanyalah alat. Baginya, berdiri basah kuyup di tengah banjir jauh lebih terhormat daripada tidur nyenyak di Rumah Jabatan sementara rakyatnya bertaruh dengan alam.

Kini, air mungkin mulai surut, namun bagi warga Amparita, ingatan tentang seorang bupati yang “nekat” menerobos banjir di tengah malam akan tetap mengalir lama di ingatan mereka. Bahwa mereka punya pemimpin yang mau peduli, bukan sekadar berjanji.


Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.