
KONAWE, FAKTA1.COM – Suasana ruang kerja Bupati Konawe siang itu terasa berbeda. Hangat, namun sarat makna strategis. Di balik senyum dan jabat tangan yang terjalin, tersimpan agenda besar: menyelamatkan stabilitas pangan dan menahan laju inflasi daerah.
Bupati Buton Selatan (Busel), Muhammad Adios, bersama rombongan tiba dan disambut langsung oleh Bupati Konawe, Yusran Akbar, Selasa (9/6/2026). Pertemuan dua kepala daerah ini bukan sekadar kunjungan biasa—ini adalah awal dari sebuah langkah penting yang bisa menentukan arah ketahanan pangan lintas wilayah di Sulawesi Tenggara.
Didampingi Wakil Bupati Konawe Syamsul Ibrahim serta sejumlah pejabat penting, Yusran menerima tamunya dengan penuh keterbukaan. Dari pihak Busel, hadir pula jajaran strategis mulai dari Sekretaris Daerah hingga Kepala Inspektorat, menandakan keseriusan misi yang dibawa.
Percakapan berlangsung cair, namun setiap kata yang terlontar mengandung bobot kepentingan rakyat. Muhammad Adios bahkan tak menyembunyikan kekagumannya terhadap kompleks perkantoran Konawe yang megah dan tertata rapi—simbol kesiapan daerah ini sebagai pusat pertumbuhan baru.
- “CEO atau Tukang Porot?” Sindiran Tanpa Nama dari Akun @galihrmdn_ Ramai Dibahas, Warganet Langsung Berspekulasi
- Kepala Sekolah di Sulsel Mundur Serentak, Komisi E Siapkan Panggilan Khusus
- Gas Melon Rp40 Ribu di Sidrap, Tim Pengawas dan Dinas Perindag Masih Diam?
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Namun lebih dari sekadar kekaguman, fokus utama pertemuan langsung mengerucut pada isu krusial: ketahanan pangan. Di tengah ancaman inflasi yang terus menghantui, kedua daerah berupaya merancang kolaborasi nyata.
Yusran Akbar dengan tenang memaparkan kesiapan Konawe. Selain menjadi lumbung pangan, daerah ini juga siap menjadi tuan rumah Temu Karya Nasional yang akan segera digelar. Sebuah agenda besar yang akan
“Pembukaannya di Konawe, namun kegiatan akan tersebar di beberapa daerah lain,” ungkapnya, memberi gambaran skala acara yang tidak main-main.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Konawe, Abdul Hasim, membuka lebih jauh arah kerja sama yang sedang dirintis. Ia menegaskan bahwa Konawe siap menjadi penopang kebutuhan beras bagi Buton Selatan—sebuah langkah konkret yang bisa menjadi penyangga stabilitas harga.
- “CEO atau Tukang Porot?” Sindiran Tanpa Nama dari Akun @galihrmdn_ Ramai Dibahas, Warganet Langsung Berspekulasi
- Kepala Sekolah di Sulsel Mundur Serentak, Komisi E Siapkan Panggilan Khusus
- Gas Melon Rp40 Ribu di Sidrap, Tim Pengawas dan Dinas Perindag Masih Diam?
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
“Bersama Bulog, kami akan membantu memasok beras ke Busel,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi titik terang. Di tengah gejolak harga dan tekanan ekonomi, kerja sama ini bukan hanya soal distribusi pangan, tetapi juga tentang menjaga daya beli masyarakat dan memastikan tidak ada daerah yang berjalan sendiri menghadapi krisis.
Hari itu, Konawe dan Buton Selatan tidak hanya bertukar gagasan. Mereka sedang merancang masa depan bersama.
Dan jika semua berjalan sesuai rencana, dalam waktu dekat, komitmen ini akan dikunci melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU)—sebuah dokumen yang bukan sekadar formalitas, tetapi simbol perlawanan terhadap ancaman inflasi dan ketidakpastian pangan.
Langkah kecil di ruang kerja itu, bisa jadi akan berdampak besar bagi ribuan bahkan jutaan masyarakat di Sulawesi Tenggara.








Tinggalkan Balasan