Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi awal dari perjalanan yang semakin dipenuhi kejadian misterius.

Memasuki hari keempat, Eddy mengungkapkan bahwa rombongan sempat mengalami kejadian membingungkan. Mereka berjalan melewati jalur yang sama selama kurang lebih lima jam, tetapi akhirnya kembali ke tempat semula. Perjalanan panjang itu seolah membawa mereka berputar tanpa menemukan jalan keluar.

Tantangan semakin berat pada hari kelima. Kali ini, rombongan harus menghadapi keterputusan komunikasi secara total. Tidak ada frekuensi komunikasi yang dapat digunakan, bahkan jaringan telepon seluler pun tidak tersedia.

Di tengah keterasingan tersebut, para petualang menemukan pemandangan alam yang luar biasa. Pada hari kelima dan keenam perjalanan, mereka memasuki kawasan hutan lumut yang menghadirkan suasana berbeda dari hutan yang sebelumnya dilalui.

Hamparan lumut menyelimuti kawasan hutan, sementara pohon-pohon berukuran raksasa berdiri menjulang di antara belantara. Ukuran batang pohon yang begitu besar membuat para petualang takjub sekaligus menyadari betapa luar biasanya kekayaan alam pedalaman Latoma–Routa.

Eddy menggambarkan, terdapat pohon-pohon besar yang ukurannya begitu luar biasa. Bahkan, untuk mengukur lingkar batangnya saja, enam orang dengan tangan yang direntangkan belum mampu menjangkau keseluruhan lingkar pohon tersebut.

Temuan itu menjadi salah satu pengalaman berkesan dalam perjalanan ekspedisi. Di tengah medan yang sulit ditembus, rombongan menyaksikan langsung keberadaan pohon-pohon raksasa yang memperlihatkan betapa kawasan pedalaman Konawe masih menyimpan kekayaan alam yang belum banyak terungkap.

Memasuki hari keenam, medan perjalanan semakin ekstrem. Para petualang harus melewati jalur pendakian terjal, menyusuri kawasan berbukit, hingga melintasi jalur dengan bibir jurang yang mengancam keselamatan.