
Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, sementara kondisi fisik para anggota terus terkuras.
Di tengah perjalanan, waktu istirahat sore menjadi momen penting untuk memulihkan tenaga. Biasanya, sekitar pukul 16.00 hingga 16.30, rombongan menghentikan perjalanan untuk mendirikan tenda sebagai tempat beristirahat dan bermalam.
Setelah melewati medan berat sepanjang hari, tenda-tenda sederhana di tengah belantara menjadi tempat mereka melepas lelah sebelum kembali menghadapi perjalanan berikutnya.
Memasuki hari-hari selanjutnya, ekspedisi mulai memperlihatkan kekayaan fauna kawasan pedalaman. Rombongan menemukan hewan endemik seperti anoa dan jonga.
Namun, di balik perjumpaan dengan satwa liar tersebut, Eddy juga mengisahkan pengalaman lain yang sulit dijelaskan. Ia mengaku pernah melihat sosok menyerupai ular besar dengan mata berwarna putih, yang menurut pengalamannya tampak seperti makhluk tak kasatmata.

Pengalaman misterius itu bukan satu-satunya kejadian yang membekas dalam perjalanan mereka.
Pada hari kedelapan, rombongan mengaku mendengar lantunan suara sholawat di tengah belantara yang jauh dari permukiman. Menurut penuturan Eddy, suara tersebut terdengar tepat pada waktu-waktu salat.
Peristiwa itu menjadi pengalaman tersendiri bagi para petualang. Di tengah kesunyian hutan, jauh dari jangkauan kehidupan masyarakat, mereka kembali dihadapkan pada kejadian yang menambah panjang cerita misteri ekspedisi tersebut.





Tinggalkan Balasan