
FAKTA1.COM — Mengusut etika global dan nilai-nilai humanistik (etika Islam) seperti diuraikan oleh Dr. H. Sholihan, M.Ag yang dihantar Dr. KH. Habib Chirzin (RaSAIL, Media Group, 2023), memang bertaut dengan gerakan kultural-intelektual yang lebih populer disebut dengan postmodernisme yang muncul tahun 1960 lewat seni arsitektur, hingga sastra dan ilmu sosial serta gaya hidup (life style) serta filsafat maupun agama.
Gerakan budaya yang berbasis intelektual ini– postmodernisme — lahir di Eropa terus menjalar ke Amerika hingga menebar ke seantero jagat. Ikhwal dari kehadiran gerakan ini menggugat “proyek modernisme yang dinilai gagal mencapai sasarannya. Dalam pandangan Alwi Shihab (Islam Inklusif : Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Mizan, Bandung, 1998) tampil dalam sejarah sebagai kekuatan progresif yang menjanjikan pembebasan manusia dari belenggu keterbelakangan dan irasionalitas.
Sebagai gerakan pemikiran dan pandangan dunia — postmodernisme — yang diinspirasi oleh Descartes hingga diperkuat oleh oleh gerakan pencerahan, dapat mengabadikan kehadirannya hingga abad ke-21 melalui dominasi sains dan kapitalisme. Kecuali itu, proyek modernisme ini tidak saja gagal mencapai sasarannya, tapi juga melahirkan konsekuensi buruk bagi kehidupan manusia dan alam.
Diantara berbagai konsekuensi negatif yang diakibatkan oleh modernisme adalah pandangan dualistik yang membagi seluruh realitas menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia dan objektivisasi alam secara berlebihan dan penguasaan alam secara semena-mena seperti yang tengah marak terjadi di Indonesia sejarang yang ditandai ekploitasi alam untuk tambang dan perkebunan yang menghancurkan hutan.
- Saksikan Peresmian KDKMP oleh Presiden Prabowo, Bupati Sidrap Tegaskan Dukungan Penuh
- PGRI Kabupaten Enrekang Ikuti Rakor PORSENIJAR, Target Turunkan 4000 Guru di Sidrap
- Veda Ega Start dari P21, Fans Tetap Optimis: “Comeback Ride” Masih Sangat Mungkin di Moto3 Catalunya 2026
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Berikutnya adalah pandangan modern yang bersifat objektivistik dan positivistik yang memposisikan manusia sebagai obyek juga, hingga ada kecenderungan menjadikan manusia sebagai mesin. Dalam
Disorientasi moral-religius ini kata Dr. Sholihan telah meningkatkan tindak kejahatan dalam beragam bentuk — utamanya korupsi, penyalahgunaan jabatan, hipokrit, khianat, berbohong bahkan menipu dengan cara terang-terangan tanpa rasa malu. Hingga pada akhirnya, manusia semakin bersifat materialistik, akibat kenyataan terdalam tidak lagi ditemukan dalam religi. Akibat langsung pergeseran materialisme ontologis ini semakin mendorong pada sifat dan sikap materialisme praktis yang melayani nafsu keserakahan tanpa dikontrol. Akibat terusan dari etika persaingan yang los kontrol ini semakin mengukuhkan nilai materialisme menjadi dominan. Atau acap dijadikan semacam Tuhan. Karena semua penakarnya tidak lagi bersifat spiritual, tetapi semua telah dikalkulasikan secara material.
Agaknya, karena itulah untuk membangun etika global harus terpancang diatas fondasi spiritual, bukan berbasis pada material. Maka itu gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual seperti yang digagas dan dicanangkan oleh GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang kini sepenuhnya berada dalam kendali Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, patut disambut untuk memposisikan Indonesia menjadi pusat pergerakan kebangkitan dan kesadaran serta pemahaman spiritual dunia.
Banten, 2 Oktober 2024
Jacob Ereste








Tinggalkan Balasan