
SOLOK SELATAN, FAKTA1.COM – Di saat hiruk-pikuk pembangunan terus digelorakan, di sebuah sudut sunyi Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, sebuah potret kemiskinan ekstrem dan keterbatasan fisik terpampang nyata. Rusdi Asmi (28), seorang pemuda yang seharusnya berada di puncak produktivitas, kini hanya bisa menatap langit-langit rumahnya dengan pasrah. Lahir sebagai penyandang disabilitas, Rusdi kini terjebak dalam pusaran nasib yang kian menghimpit.
Sebatang Kara di Tengah Keterbatasan
Nasib malang seolah tak mau beranjak dari gubuk Rusdi. Pemuda ini telah lama kehilangan sosok ayah. Satu-satunya pelita yang tersisa dalam hidupnya adalah sang ibu. Namun, pelita itu kini kian meredup. Sang ibu, yang bertahun-tahun memeras keringat sebagai buruh tani serabutan di sawah orang lain, kini telah tumbang. Usia senja dan serangan berbagai penyakit membuatnya tak lagi mampu berdiri tegak, apalagi mencari sesuap nasi untuk anak tercintanya.
Jeritan di Tengah Kesunyian: “Tidak Ada yang Bantu Kami, Pak…”
Sebuah percakapan singkat melalui pesan singkat pada Selasa (12/05/2026) menjadi saksi betapa perihnya hidup yang dijalani Rusdi. Saat dihubungi oleh Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, kalimat yang keluar dari jemari Rusdi sangat menyayat hati.
- Kapten PSIM Yogjakarta, Reva Adi: Sidrap Cup Bisa jadi Ajang Silaturahmi Pemain Liga 1
- Tiga Kali Mangkir, Dirut Tambang Nikel di Sultra Akhirnya Dijemput Paksa Kejagung
- Tiga Tahun untuk Kasus Perkosaan? Publik Soroti Tuntutan Jaksa terhadap Oknum Polisi di Maros
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
“Siapa yang bantu Pak Rusdi selama ini? Tidak ada yang bantu kami, Pak. Ibu saya dulu kerja di sawah orang, sekarang sudah tua tidak bisa kerja lagi. Tolonglah, Pak…”
Kalimat sederhana itu adalah sebuah tamparan keras bagi nalar kemanusiaan kita. Di tengah klaim keberhasilan program jaminan sosial, Rusdi Asmi seolah menjadi sosok yang “terlupakan”—ia luput dari pandangan negara dan tersisih dari perhatian mereka yang berpunya.
Menagih Janji Konstitusi
Kasus Rusdi Asmi adalah bukti nyata betapa implementasi Pasal 34 ayat (1) UUD 1945
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, khususnya Dinas Sosial, kini ditantang untuk membuktikan kehadirannya. Rusdi tidak butuh sekadar kata-kata prihatin; ia butuh kepastian jaminan pangan, akses layanan kesehatan, dan hak-hak dasarnya sebagai penyandang disabilitas yang dilindungi undang-undang.
- Kapten PSIM Yogjakarta, Reva Adi: Sidrap Cup Bisa jadi Ajang Silaturahmi Pemain Liga 1
- Tiga Kali Mangkir, Dirut Tambang Nikel di Sultra Akhirnya Dijemput Paksa Kejagung
- Tiga Tahun untuk Kasus Perkosaan? Publik Soroti Tuntutan Jaksa terhadap Oknum Polisi di Maros
- Lihat semua berita terbaru di Katasulsel
Investasi Kemanusiaan: Sebuah Panggilan Moral
Filsuf Immanuel Kant pernah mengingatkan bahwa martabat manusia tidak ternilai harganya. Ketika kita membiarkan seorang penyandang disabilitas dan ibu lansia kelaparan, kita sebenarnya sedang membiarkan martabat bangsa ini runtuh secara perlahan.
Wilson Lalengke menegaskan bahwa aparatur negara adalah pelayan yang digaji rakyat untuk memastikan prinsip “No one left behind” (tidak ada satu pun yang tertinggal) benar-benar terwujud. Mengabaikan Rusdi sama saja dengan mengkhianati mandat rakyat.
ULURAN TANGAN ANDA ADALAH HARAPAN BAGI RUSDI
Kisah Rusdi Asmi bukan sekadar berita, melainkan panggilan untuk bertindak sebelum terlambat. Rusdi tidak meminta kemewahan; ia hanya ingin bertahan hidup bersama ibu yang sangat dicintainya.
Profil Singkat:
Nama: Rusdi Asmi
Usia: 28 Tahun
Lokasi: Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat
Kondisi: Disabilitas sejak lahir, yatim, hidup bersama ibu lansia yang sakit-sakitan.
Bagi para dermawan, pemilik usaha, atau pemegang kebijakan yang tergetik nuraninya untuk membantu, silakan menghubungi:
Sekretariat PPWI Nasional
📞 0813-7154-9165 (Shony)
Mari kita buktikan bahwa nurani bangsa ini belum mati. Jangan biarkan Rusdi Asmi terus meratap dalam kesunyian yang mencekam.
(TIM/Red)








Tinggalkan Balasan