
SIDRAP, FAKTA1.COM – Di balik deru mesin industri raksasa di Morowali, tersimpan cerita pilu dari keringat rakyat kecil di Tanete, Kecamatan Maritengngae, Sidrap. Subsidi energi yang seharusnya menjadi napas ekonomi warga, kini diduga kuat telah dirampok secara sistematis oleh mafia bahan bakar minyak (BBM) lintas daerah.
Nama oknum berinisial IL kini menjadi sorotan tajam. Ia dituding bukan sekadar pemain receh, melainkan “Aktor Intelektual” di balik menguapnya stok Solar di SPBU lokal. Ironisnya, Solar yang merupakan hak rakyat miskin itu disinyalir dilarikan untuk melayani syahwat industri di Morowali demi meraup pundi-pundi pribadi yang fantastis.
Modus Operandi: Menguras di Hulu, Menjual di Hilir
Praktik yang dijalankan jaringan IL diduga bukan lagi sekadar pelangsiran biasa, melainkan operasi gelap yang terorganisir rapi. Berdasarkan penelusuran di lapangan, pasokan BBM subsidi dikuras dalam skala besar menggunakan armada rahasia dan tangki-tangki modifikasi.
Akibatnya fatal. Sementara IL dan jaringannya berpesta pora dari hasil penjualan gelap ke wilayah industri, para petani, nelayan, dan pelaku UMKM di Tanete dipaksa gigit jari. Mereka harus mengemis di tanah sendiri demi mendapatkan seliter Solar.
“Kami ini pemilik sah subsidi itu! Tapi kenapa kami yang harus antre berjam-jam hanya untuk melihat papan ‘BBM HABIS’, sementara para pelangsir bebas keluar masuk membawa jeriken seolah hukum tidak berlaku bagi mereka?” cetus seorang warga dengan nada geram.
Rakyat Jadi Tumbal Keserakahan
Kelangkaan ini bukan masalah logistik semata, melainkan perampokan hak konstitusional. Kendaraan buruh harian mogok, mesin traktor petani mandek, dan ekonomi
Publik pun mulai bertanya-tanya: Bagaimana mungkin pengiriman BBM skala besar lintas provinsi ini bisa melenggang mulus menembus perbatasan? Apakah ada mata yang sengaja tertutup atau ada “restu” yang diberikan di balik layar?
Desakan Hukum: Seret IL, Jangan Biarkan Aparat “Masuk Angin”
Masyarakat kini menagih keberanian Aparat Penegak Hukum (APH). Publik tidak butuh janji manis atau pengawasan formalitas yang mandul. Ada tiga tuntutan nyata yang kini bergaung keras:
Tangkap dan Seret IL: Lakukan penyelidikan tuntas terhadap aliran distribusi gelap yang dikomandoi IL. Jangan biarkan aktor intelektual ini terus menghisap subsidi rakyat.
Audit dan Sanksi SPBU Nakal: Periksa keterlibatan oknum operator dan pengelola SPBU yang diduga kuat “main mata” dengan jaringan pelangsir.
Tutup Jalur Tikus: Perketat penjagaan di jalur keluar daerah. Pastikan setiap tetes Solar subsidi tetap berada di tangan rakyat Sidrap, bukan di tangki industri Morowali.
Jika hukum tetap diam dan “masuk angin” dalam menghadapi skandal ini, maka kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum akan berada di titik nadir. Jangan biarkan mafia BBM merasa lebih berkuasa daripada negara!
Pesan untuk Pemerintah: Rakyat tidak butuh angka-angka statistik di atas kertas, mereka butuh Solar tersedia di mesin-mesin mereka untuk menyambung hidup!








Tinggalkan Balasan