
KABUPATEN BEKASI, FAKTA1.COM – Angin segar transparansi publik kembali diuji oleh aksi premanisme yang memuakkan. Jagat media sosial dihebohkan oleh rekaman video berdurasi 44 detik dari kanal Gean Kelana, yang mempertontonkan tindakan intimidasi gaya preman terhadap seorang warga yang tengah mendokumentasikan proyek Wisata Air Kalimalang.
Dalam rekaman video yang viral tersebut, seorang pria misterius dengan arogansi tinggi mendatangi dan mengusir Gean Kelana secara paksa. Bukan sekadar pengusiran, ancaman pembunuhan dan pengrusakan terlontar tanpa sensor.
“Gua matiin ama gua bakar lu!”
Kalimat biadab tersebut didengar langsung oleh Gean di lokasi proyek. Ironisnya, tindakan fasis ini bukan yang pertama kali. Gean mengaku telah empat kali menjadi sasaran intimidasi serupa di area yang sama. Modusnya jelas: membungkam suara publik agar borok proyek tidak terendus keluar.
Tragisnya lagi, perlakuan intimidatif ini ternyata juga menimpa sejumlah rekan lain yang berniat melakukan pemantauan dan dokumentasi di lokasi tersebut. Kawasan proyek Wisata Air Kalimalang seolah menjelma menjadi “zona terlarang” yang anti-kritik dan alergi terhadap pengawasan masyarakat.
Pelanggaran Konstitusi dan Pembungkaman Hak Publik
Aksi premanisme di proyek Wisata Air Kalimalang ini adalah tamparan keras bagi hukum di negeri ini. Secara konstitusi, partisipasi dan pengawasan masyarakat dalam pembangunan
Siapa pun oknum di balik intimidasi ini, mereka telah nyata-nyata mengangkangi semangat keterbukaan informasi publik dan melecehkan hak warga negara dalam melakukan kontrol sosial.
Bungkamnya Pihak Pengelola: Ada Apa?
Hingga narasi keras ini diturunkan, pihak pengelola proyek Wisata Air Kalimalang maupun instansi terkait kompak memilih bungkam. Tidak ada satu pun keterangan resmi atau permohonan maaf yang dikeluarkan terkait aksi premanisme yang terekam jelas tersebut. Sikap diam ini justru mempertebal kecurigaan publik: Apakah ada konspirasi atau pembiaran terhadap aksi premanisme ini?
Kasus ini bukan lagi sekadar masalah cekcok di lapangan, melainkan ancaman serius terhadap keselamatan warga negara yang menjalankan fungsi kontrol sosial. Aparat penegak hukum dituntut bertindak tegas, tangkap pelaku intimidasi, dan bongkar siapa aktor intelektual di balik layar yang mencoba menutup-nutupi realita proyek Wisata Air Kalimalang!
Laporan: Haris Pranatha, C. PFW., C. MDF., C. JKJ








Tinggalkan Balasan