Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6842 Lihat semua

FAKTA1.COM, ​MAKASSAR – Kursi panas Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan resmi berganti nahkoda.

Berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI Nomor 488 Tahun 2026, Dr. Sila Haholongan, S.H., didapuk menggantikan Didik Farkhan Alisyahdi yang ditarik ke korps pusat. Namun, belum juga resmi menduduki meja kerjanya, Sila sudah “dihadiahi” tuntutan keras dari aktivis jalanan.

​Peralihan kekuasaan di tubuh Kejati Sulsel ini terjadi di tengah sorotan tajam publik terhadap rentetan skandal korupsi yang seolah membeku tanpa ujung.
​Warisan Perkara yang Membatu
​Kehadiran Kajati baru ini dipandang bukan sekadar rotasi rutin, melainkan ujian nyali bagi penegakan hukum di Sulawesi Selatan.

Sejumlah kasus besar yang melibatkan anggaran miliaran rupiah dilaporkan masih mengendap di laci Kejati, di antaranya:

– ​Skandal Bansos Covid-19: Penanganan yang dinilai lamban di tengah penderitaan rakyat saat pandemi.
– ​Dugaan Korupsi Disdik Bulukumba: Anggaran Rp34 miliar (TA 2024/2025) yang hingga kini belum menemui titik terang.
– ​Proyek Pasar Sentral Bulukumba: Pembangunan senilai Rp59 miliar yang terindikasi merugikan negara.
– ​Indikasi Penyimpangan KONI Sulsel: Pengelolaan dana persiapan PON 2024 yang penuh tanda tanya.
– ​Proyek Seragam Olahraga: Dugaan penggelembungan harga yang merusak marwah dunia olahraga daerah.

​Sentilan Tajam Panglima GAM: “Kejati Belum Serius!”
​Merespons mutasi ini, Panglima Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM), Fajar Wasis, melontarkan kritik pedas sekaligus tantangan terbuka bagi Dr. Sila

Haholongan. Baginya, pergantian pucuk pimpinan tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi ajang seremoni tanpa ada gebrakan nyata.

​“Kami mengucapkan selamat datang kepada Kajati Sulsel yang baru. Namun perlu diingat, keberanian dan ketegasan adalah modal utama. Tanpa itu, supremasi hukum di Sulsel hanya akan menjadi slogan kosong,” tegas Fajar Wasis saat ditemui di Makassar, Jumat (17/4).

​Fajar menilai, selama ini Kejati Sulsel terkesan tebang pilih dan kehilangan taji dalam menuntaskan perkara-perkara “kakap”. Ia menyebut potret penanganan perkara saat ini adalah bukti nyata inkonsistensi lembaga adhyaksa tersebut.

​“Sejumlah kasus tanpa kejelasan ini adalah indikasi kuat bahwa komitmen pemberantasan korupsi di Sulsel belum dijalankan secara serius. Kami menantang Kajati baru: tuntaskan yang mandek, atau hanya akan menambah daftar panjang kegagalan!” tutup Panglima GAM dengan nada tinggi.

​Ujian Nyali di Tengah Arus
​Kini, publik menunggu apakah Dr. Sila Haholongan akan mampu mencairkan gunung es korupsi di Sulawesi Selatan, atau justru ikut terhanyut dalam pola penanganan perkara yang dinilai “adem-ayem” oleh para aktivis. Kursi Kajati Sulsel bukan sekadar jabatan struktural, melainkan panggung pembuktian bagi integritas seorang jaksa.

Sumber : Panglima GAM Fajar Wasis

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.