
Fakta1.Com — Presiden Prabowo Subianto mendadak merombak jajaran Kabinet Merah Putih di sektor ekonomi. Melalui Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026 yang ditetapkan pada Senin (14/9/2026), Presiden resmi menggantikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menkeu yang baru.
Pergantian ini terbilang mengejutkan. Purbaya, yang baru dilantik pada 8 September 2025, genap setahun menjabat sebelum dilengserkan. Reuters melaporkan bahwa Purbaya bahkan terlihat meninggalkan agenda rapat bersama parlemen di hari yang sama sebelum pengumuman resmi diterbitkan. Di sisi lain, Suahasil bukanlah orang baru; ia telah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019.
Hingga saat ini, pihak Istana belum merilis alasan resmi di balik pencopotan Purbaya. Namun, sejumlah sinyal dan analisis tebaran spekulasi mulai mengemuka.
Sinyal Kritik Komunikasi dan Tekanan Fiskal
Salah satu petunjuk yang menjadi sorotan adalah pernyataan Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, pada Jumat (11/9/2026)—hanya tiga hari sebelum pencopotan.
Misbakhun sempat mengingatkan Purbaya untuk membenahi gaya komunikasi politiknya.
“Fokuslah pada desain ekonomi besar yang ingin dia bangun untuk mendukung visi Presiden,” tegas Misbakhun kala itu, mengimbau agar Purbaya tak terlalu sering mengomentari kebijakan kementerian lain.
Gaya bicara Purbaya yang ceplos-ceplos memang sudah terlihat sejak awal menjabat.
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini sempat mengakui bahwa gaya komunikasinya sering dinilai bagai “koboi” saat berhadapan dengan media maupun DPR.
Selain faktor komunikasi, sisi kinerja fiskal Purbaya tak lepas dari sorotan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pengelolaan utang selama setahun terakhir tergolong agresif.
“Nggak sinkron nafsu terbitkan utang dengan kemampuan bayar,” ujar Bhima (8/9/2026).
Kendati demikian, Purbaya juga mencatatkan sejumlah gebrakan berani, salah satunya menyuntikkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank-bank Himbara demi menggenjot likuiditas serta pertumbuhan kredit nasional.
Arah Baru di Tangan Suahasil Nazara
Penunjukan Suahasil Nazara mengindikasikan bahwa Presiden Prabowo memilih langkah aman untuk menjaga stabilitas. Dibandingkan mengambil figur luar, menunjuk “orang dalam” Kemenkeu yang sudah berpengalaman diyakini bertujuan agar mesin fiskal tetap berjalan lancar tanpa guncangan besar.
Langkah ini diambil di momen krusial, di mana pemerintah dan Komisi XI DPR baru saja menyepakati asumsi dasar RAPBN 2027 pada awal September lalu—termasuk target pertumbuhan ekonomi 6% dan nilai tukar Rp17.500 per dolar AS.
Kini, perhatian publik dan pelaku pasar tertuju pada tiga hal utama yang akan dibawakan oleh Suahasil:
- Kelanjutan Stimulus: Apakah kebijakan penyaluran likuiditas besar-besaran era Purbaya akan diteruskan?
- Strategi Utang: Bagaimana penyesuaian arah pengelolaan defisit APBN dan penerbitan SBN ke depan?
- Gaya Komunikasi: Akankah konsolidasi dan koordinasi lintas kementerian berjalan lebih tenang dan terkendali?
Jawaban atas langkah-langkah Suahasil mendatang akan menjadi penentu: apakah pergantian ini sekadar penyegaran figur, atau awal dari pergeseran besar arah kebijakan fiskal pemerintahan Prabowo.(*)








Tinggalkan Balasan