Fery Sirajuddin EDITOR FAKTA1
Redaktur Fakta1.com yang aktif mengawal informasi publik dan laporan faktual dari berbagai daerah.
Artikel: 6900 Lihat semua

JAKARTA, FAKTA1.COM – Polemik metode pemusnahan ikan sapu-sapu di Jakarta memasuki babak baru. Setelah MUI menyoroti metode penguburan massal yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, ikut turun tangan memberikan usul brilian kepada Gubernur Pramono Anung.

Bukannya dibuang percuma, Susi menyarankan agar limbah ikan invasif tersebut diolah menjadi produk berdaya guna tinggi. Apa saja opsinya?

1. Transformasi Jadi Pakan Ternak dan Pelet
Susi menekankan bahwa ikan sapu-sapu memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pakan.

“Dibuat pakan ikan atau pakan ternak saja, digiling dijadikan pelet ikan,” ujar Susi (20/4/2026).

Langkah ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan sekadar memusnahkannya tanpa nilai tambah.

2. Pupuk Organik untuk Lahan Pertanian
Selain pakan, Susi juga melirik sektor pertanian. Menurutnya, ikan sapu-sapu bisa menjadi sumber nutrisi tanaman yang sangat baik melalui metode sederhana:

Dicincang: Ikan

dipotong menjadi bagian kecil.

Dikubur: Langsung diaplikasikan ke lahan pertanian atau dikirim ke perkebunan sebagai pupuk organik.

3. Suplai untuk Peternak Kepiting hingga Buaya
Tak berhenti di situ, Susi memberikan opsi logistik lainnya. Ikan sapu-sapu yang tertangkap bisa dibekukan untuk kemudian dikirim ke peternak spesifik.

“Atau kasihkan ke peternak kepiting setelah dibekukan, atau peternak buaya,” tambahnya.

Mengapa ini penting?
Metode penguburan yang sebelumnya dilakukan sempat menuai kritik terkait efektivitas dan etika lingkungan. Dengan saran dari “Srikandi Laut” ini, Pemprov DKI Jakarta diharapkan mampu mengelola masalah hama lingkungan menjadi solusi ekonomi sirkular yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bagaimana menurut Anda? Apakah pengolahan jadi pelet lebih efektif dibanding dikubur? (*)

Gambar berita Fakta1

Anda membaca fakta1.com network katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.